"Wahai Diri,,, tidak letihkah engkau mengikuti keakuan mu?"
Apa yang sebenarnya menjadi keputusan hati mu, bukan apa yang kelak akan dipikiran orang lain!
Diri mu sendiri!!! Diri yang kelak akan dimintai pertanggung jawabannya di akhirat. Penglihatan, pendengaran, mulut, kaki tangan mu bahkan nafas yang sedang dipinjami ini akan bersaksi dihadapan-Nya. Tidak bisakah engkau cukup mendengarkan apa yang sekiranya baik untuk dirimu, untuk agama mu, dan kehidupan yang sebenarnya di alam akhirat? Lantas, mengapa kau masih saja mengikuti keakuan mu itu, keangkuhan mu itu, 'pengakuan orang lain itu'? Kehidupan yang kau pinjam ini tidak berlangsung lama, masih saja kau turuti keakuan mu, gengsi akan pandangan orang lain terhadap jalan yang kau pilih, pantas jika ego menang telak dari mu, untuk mengalahkan ego mu yang cundang saja kau tak mampu!
'Pecundang!' Bisik hati mu yang lain.
Tidak lama Ayahnya pun datang menghampiri, ia bisa saja menjadi wanita yang terlihat tegar dimata orang lain. Tapi tidak, ketika bersama seorang laki-laki yang mencintainya dengan sepenuh jiwa dan raga. Ayahnya yang selalu beranggapan bahwa dimatanya Dinda tetaplah putri kecilnya yang lucu.
"Ayah jangan masuk kamar Dinda dulu yaa" pinta putri kecilnya. Buru-buru Dinda pun menyeka air mata yang begitu melekat dipipinya, takut terlihat bahwa anak kecilnya ayah begitu cengeng saat sendirian.
"Masuk ya" ucap Ayah.
Laki-laki yang begitu hangat pelukannya, laki-laki yang begitu memberikan rasa aman saat berada bersamanya, seseorang yang siap dengan segala apa pun resiko untuk membela putri kecilnya, laki-laki itu ialah Ayah. Entah, sulit sekali rasanya, mengungkapkan betapa letihnya mengikuti keakuan ku ini, Sampai tidak dalam hitungan detik, bersamaan dengan pelukan Ayah tangis ini tumpah menyeruah. Tidak ada alasan yang sempat terutarakan, melihatnya saja hati ini lemah, ingin sekali menumpahkan segala beban bersama dengannya, berharap bisa dipukul, ego yang meluap dalam hati ini dengan pukulan ayah, berharap bisa jera gengsi ini dengan hantaman-hantaman pertanyaan ayah.
"Jangan takut ombak!" pesannya sebelum ia benar-benar menutup mata untuk yang terakhir kalinya.
"Ayaaahhhh" Sadarnya dengan mata yang sembab.
Ayah, aku lelah mengikuti keakuan ku ini. Boleh kau datang mengajak ku, lalu membawa ku pergi entah seberapa jauh dan lamanya semua itu, aku tidak peduli. Aku takut, aku takut kekauan ku ini meluap-luap, takut ego ku ini membabi buta, aku takut hidup ku kalap.
=========================================================================
Jakarta, 17 Juli 2018
Annisa Habibah
19.22
Komentar
Posting Komentar