Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2018

Wahai Diri 'Aku Lelah Mengikuti Keakuan mu'

"Wahai Diri,,, tidak letihkah engkau mengikuti keakuan mu?" Apa yang sebenarnya menjadi keputusan hati mu, bukan apa yang kelak akan dipikiran orang lain! Diri mu sendiri!!! Diri yang kelak akan dimintai pertanggung jawabannya di akhirat. Penglihatan, pendengaran, mulut, kaki tangan mu bahkan nafas yang sedang dipinjami ini akan bersaksi dihadapan-Nya. Tidak bisakah engkau cukup mendengarkan apa yang sekiranya baik untuk dirimu, untuk agama mu, dan kehidupan yang sebenarnya di alam akhirat? Lantas, mengapa kau masih saja mengikuti keakuan mu itu, keangkuhan mu itu, 'pengakuan orang lain itu'? Kehidupan yang kau pinjam ini tidak berlangsung lama, masih saja kau turuti keakuan mu, gengsi akan pandangan orang lain terhadap jalan yang kau pilih, pantas jika ego menang telak dari mu, untuk mengalahkan ego mu yang cundang saja kau tak mampu!   'Pecundang!' Bisik hati mu yang lain. Tidak lama Ayahnya pun datang menghampiri, ia bisa saja menjadi wanita ...

Sebab Defini Bahagianya Sederhana

Saat kita tengah kerepotan menyusun serangkaian misi dan impian hidup, segala hal yang terlihat patut untuk dibanggakan menjadi sangat-sangat perlu untuk diwujudkan, mungkin itu versi bahagia kita. Bahagia ketika satu demi per satu impian hidup kita terwujud, bahagia yang fana karena banyak dari serangkain impian tersebut adalah perihal keduniawian. Ketika hati kita bahagia sebab segalanya dengan mudah tercapai, diluar sana banyak mereka yang memiliki defini bahagianya sendiri.  Bapak yang tengah bersusah payah mendorong gerobak sampahnya, memiliki harap bahwa hari ini anak saya harus makan enak, bahagianya sederhana. Pedagang asongan yang menjajakan dagangannya, mungkin ia tengah berupaya untuk membayar sekolah adiknya. Adik kecil yang merintih kelaparan, mungkin sedang menunggu ayahnya pulang. Atau mereka yang tengah berada dalam tahanan, merindukan kebebasan udara segara. Orang-orang yang tengah berjuang melawan penyakitnya, mungkin bisa bahagia saat kita datang membe...
Sesekali memang kita perlu untuk menghilang dari semuanya. Tapi bukan karena alasan, orang-orang itu jahat. Lebih tepat, sebab semuanya terlalu baik.

A Letter to Myself

(Source : Unsplash) Terima kasih sudah mau belajar: satu tahun TK, enam tahun SD, tiga tahun SMP, tiga tahun SMK, dan semoga terus merasa fakir ilmu agar tidak bosan mencari tau. Terima kasih sudah mau menjalaninya meski sering bertanya-tanya mengapa dan untuk apa. Terima kasih sudah mau mencoba ikut banyak hal, ikut macam-macam organisasi, mau belajar mengambil amanah meski kadang merasa takut tak bisa, menjadi penggembira saja, ikut beberapa lomba meski tak bawa piala, atau membuat karya-karya jail yang terkadang berakhir hanya didinding langit-langit kamar. Terima kasih sudah mau berteman--dan menjaga pertemanan. Terima kasih tak pernah membiarkan dirimu sendirian. Semoga kita tidak terhanyut dalam hidup yang membuat lupa akan siapa yang menjadikan kita seperti sekarang. Terima kasih sudah mau berjuang membuat keputusan dan mengambil pilihan. Meski yang dulunya kau rela pertahankan, menangis secara berlebihan, hari ini justru kau dibuatnya malu sebab dulu pernah...