"Wahai Diri,,, tidak letihkah engkau mengikuti keakuan mu?" Apa yang sebenarnya menjadi keputusan hati mu, bukan apa yang kelak akan dipikiran orang lain! Diri mu sendiri!!! Diri yang kelak akan dimintai pertanggung jawabannya di akhirat. Penglihatan, pendengaran, mulut, kaki tangan mu bahkan nafas yang sedang dipinjami ini akan bersaksi dihadapan-Nya. Tidak bisakah engkau cukup mendengarkan apa yang sekiranya baik untuk dirimu, untuk agama mu, dan kehidupan yang sebenarnya di alam akhirat? Lantas, mengapa kau masih saja mengikuti keakuan mu itu, keangkuhan mu itu, 'pengakuan orang lain itu'? Kehidupan yang kau pinjam ini tidak berlangsung lama, masih saja kau turuti keakuan mu, gengsi akan pandangan orang lain terhadap jalan yang kau pilih, pantas jika ego menang telak dari mu, untuk mengalahkan ego mu yang cundang saja kau tak mampu! 'Pecundang!' Bisik hati mu yang lain. Tidak lama Ayahnya pun datang menghampiri, ia bisa saja menjadi wanita ...
Ketika dunia memiliki ragam warna, disanalah tercipta kata, bahasa, rasa, dan cinta. Dengan satu kesatuan itu, dunia yang berwarna akan lebih indah. -Annhab