Langsung ke konten utama

Sebab Defini Bahagianya Sederhana


Saat kita tengah kerepotan menyusun serangkaian misi dan impian hidup, segala hal yang terlihat patut untuk dibanggakan menjadi sangat-sangat perlu untuk diwujudkan, mungkin itu versi bahagia kita. Bahagia ketika satu demi per satu impian hidup kita terwujud, bahagia yang fana karena banyak dari serangkain impian tersebut adalah perihal keduniawian. Ketika hati kita bahagia sebab segalanya dengan mudah tercapai, diluar sana banyak mereka yang memiliki defini bahagianya sendiri. 

Bapak yang tengah bersusah payah mendorong gerobak sampahnya, memiliki harap bahwa hari ini anak saya harus makan enak, bahagianya sederhana. Pedagang asongan yang menjajakan dagangannya, mungkin ia tengah berupaya untuk membayar sekolah adiknya. Adik kecil yang merintih kelaparan, mungkin sedang menunggu ayahnya pulang. Atau mereka yang tengah berada dalam tahanan, merindukan kebebasan udara segara. Orang-orang yang tengah berjuang melawan penyakitnya, mungkin bisa bahagia saat kita datang membesuk, bahagianya sederhana.

Terlepas dari perjuangan orang tersebut, kamu pernah memikirkan apa yang menjadi tujuan kebahagiaannya? Saat hidup tengah terpuruk, satu-satunya yang menjadi penerang adalah harapan. Harapan bahwa saya melakukan ini untuk anak saya, saya melakukan ini sebab dari kemarin adik saya sakit, dan karena pekerjaan ini saya berusaha menghidupkan hidup orang lain, yaitu keluarga saya. Defini bahagianya bukan lagi bagaimana menaklukkan hal besar untuk dipamerkan?

Defini bahagia masing-masing kita berbeda, sering kali kita membayangkan bahwa kebahagian itu berupa hal-hal besar, punya harta banyak, rumah mewah, jabatan yang tinggi serta hal lainnya. Namun, sesuatu sedang terjadi di tempat lain. Pada detik yang sama, pada saat kita menghebuskan nafas saat ini. Sebagian kita tahu, sebagian kita tidak. Sebagian dari kita peduli, sebagian lain juga tidak. Setiap hari, empati kita semakin tumpul. Ketumpulan yang semakin hari semakin bertambah lantaran kita sendiri yang menumpulkannya.

Lantas kita masih menyalahkan dirinya? "Salah sendiri, siapa tau dulu dia males-malesan. Ah biarin, itu hasilnya" Tidak bisa membantu, mengapa mengumpat? Sangkaan kita terlalu naif, melihat dari sudut pandang yang terburuk. Mungkin bisa saja, hidup yang dulu dilaluinya ada perjuangan dari sesuatu yang ditukarnya. Kita tidak pernah diajarkan tentang empati di sekolah-sekolah, Kita lebih banyak diajarkan untuk mencari jalan pintas, bagaimana mengakali, juga bagaimana mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya.

Hidup ini tengah bergerak di atas takdir yang luar biasa, Dia juga menyediakan takdir-takdir mana yang bisa kita pilih. Setiap keputusan yang kita ambil, setiap langkah yang kita buat, apakah kita pernah memikirkan selain diri sendiri di saat mempertimbangkannya? Mungkin dari detik ini, kita mau peduli untuk sekadar membantu agar kebahagiaan sederhana orang lain dapat terwujud.

Kamu mau kan menjadi salah satunya?:)

-Annisa Habibah-
@annisahab

(Source : Pinterest)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Karena ku punya semua mimpi yang tak semudah itu kau Lenyapkan"

Bismillah,,, Langkah hebat dengan pencapaian yang menyayat ini sungguh begitu meletihkan. Tuhan, bisakah kau mundurkan waktu ku? Agar aku bisa memilih dan memilah bagaimana hasil dari keputusan mu?  Bolehkah ku meminta agar aku berkhayal dan mengatur sesuka ku? Jika kau menjawab itu semua dengan suatu dampratan, tolong buat tamparan itu kian mematikan. Agar aku pun bisa bercermin sejauh mana jiwa ini berjuang, sejauh mana langkah ini terus menerjang jalan yang begitu terjal, agar aku bisa mengakhirinya dalam proses terhormat dengan sebuah tamparan yang mematikan. Kau pun menjawab semuanya Rabb, Kau tampar aku sedemikian dahsyat sampai akhirnya asa ini mulai terkikis, Kau pun dengan tega'nya mengatur seperti apa mau mu, kian hati ini melulu menyalahkan-Mu, tak mempercayai bahwa diri ini mampu terbawa sepeti mau ku sesuai dengan khendak-Mu. Rupanya pemikiran ku terlalu dangkal, angan ku terlalu cetek dan penilaian tentang diri ku pun belum dapat ku mengerti. Sampai akhirnya aku me...

Catatan Rumah Tangga #2

  "Jangan biarkan masalah itu terdengar keluar dari pintu kamar kita. Biarkan dia menemui titik selesainya di dalam saja" Selain sabar dan shalat, kunci selanjutnya yang perlu kau pegang adalah jujur dan percaya. Sama halnya dalam rumah tangga, laki-laki yang kau pilih untuk menjadi imammu itu adalah orang asing yang hadirnya kini dibebani pada seluruh kebaikan atau keburukan istrinya kelak. Orang asing yang padanya kau merasa yakin, ada satu perasaan yang berbeda, entah dideskripsikan seperti apa. Perjalanan ini bukanlah perjalanan yang selalu menjanjikan aspalnya mulus, akan banyak kau temui jalan yang berkelok, tanjakan yang curam, turunan yang perlu banyak perhatian dan pengendalian. Kau harus percaya bahwa atas izin Allah, kau berada bersama dengan orang yang tepat.  Tidak ada kepala yang indah dengan berjuta variasi warna rambut. Hitam atau putih adalah dua pilihan mutlak yang tidak bisa dicederai. Jangan biarkan orang lain berpendapat tentang berbagai warna yang cocok ...

Maret

[ 69/365] Hai aku kecil, apa kabar? aku kecil, pernahkah dulu kita membayangkan akan sampai pada hari ini? Aku masih mengingat mimpi masa kecilku– menjadi dokter, aku rasa itu bukan mimpi anak kecil pada umumnya. Oh iya, aku juga ingat terakhir, belum lama, ketika lulus sekolah kemudian melamar kerja lalu ditanya, "Lima tahun kedepan kamu akan menjadi seperti apa?" Lalu aku jawab dengan penuh semangat tanpa tau lagi, kalau realitanya seperti ini. Kataku, "Aku ingin punya sekolah, mau buka usaha ini dan itu, menulis buku a sampai z dan masih banyak lagi!" Seiring berjalannya waktu dan aku bertumbuh dewasa, mimpi-mimpiku dibentuk sekitar untuk lebih realis dan sadar akan takdirNya. Hai aku kecil, kalau kamu tau aku yang sekarang tidak lebih baik dari beberapa tahun belakangan ini, apa yang akan kamu katakan? Pasti, kamu mau tunjuk-tunjuk sambil bilang, dulu mimpimu banyak, tapi sekarang kok belum ada yang tercapai? Kamu juga pasti marah aku kecil, kalau sudah dewasa g...