Saat kita tengah kerepotan menyusun serangkaian misi dan impian hidup, segala hal yang terlihat patut untuk dibanggakan menjadi sangat-sangat perlu untuk diwujudkan, mungkin itu versi bahagia kita. Bahagia ketika satu demi per satu impian hidup kita terwujud, bahagia yang fana karena banyak dari serangkain impian tersebut adalah perihal keduniawian. Ketika hati kita bahagia sebab segalanya dengan mudah tercapai, diluar sana banyak mereka yang memiliki defini bahagianya sendiri.
Bapak yang tengah bersusah payah mendorong gerobak sampahnya, memiliki harap bahwa hari ini anak saya harus makan enak, bahagianya sederhana. Pedagang asongan yang menjajakan dagangannya, mungkin ia tengah berupaya untuk membayar sekolah adiknya. Adik kecil yang merintih kelaparan, mungkin sedang menunggu ayahnya pulang. Atau mereka yang tengah berada dalam tahanan, merindukan kebebasan udara segara. Orang-orang yang tengah berjuang melawan penyakitnya, mungkin bisa bahagia saat kita datang membesuk, bahagianya sederhana.
Terlepas dari perjuangan orang tersebut, kamu pernah memikirkan apa yang menjadi tujuan kebahagiaannya? Saat hidup tengah terpuruk, satu-satunya yang menjadi penerang adalah harapan. Harapan bahwa saya melakukan ini untuk anak saya, saya melakukan ini sebab dari kemarin adik saya sakit, dan karena pekerjaan ini saya berusaha menghidupkan hidup orang lain, yaitu keluarga saya. Defini bahagianya bukan lagi bagaimana menaklukkan hal besar untuk dipamerkan?
Defini bahagia masing-masing kita berbeda, sering kali kita membayangkan bahwa kebahagian itu berupa hal-hal besar, punya harta banyak, rumah mewah, jabatan yang tinggi serta hal lainnya. Namun, sesuatu sedang terjadi di tempat lain. Pada detik yang sama, pada saat kita menghebuskan nafas saat ini. Sebagian kita tahu, sebagian kita tidak. Sebagian dari kita peduli, sebagian lain juga tidak. Setiap hari, empati kita semakin tumpul. Ketumpulan yang semakin hari semakin bertambah lantaran kita sendiri yang menumpulkannya.
Lantas kita masih menyalahkan dirinya? "Salah sendiri, siapa tau dulu dia males-malesan. Ah biarin, itu hasilnya" Tidak bisa membantu, mengapa mengumpat? Sangkaan kita terlalu naif, melihat dari sudut pandang yang terburuk. Mungkin bisa saja, hidup yang dulu dilaluinya ada perjuangan dari sesuatu yang ditukarnya. Kita tidak pernah diajarkan tentang empati di sekolah-sekolah, Kita lebih banyak diajarkan untuk mencari jalan pintas, bagaimana mengakali, juga bagaimana mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya.
Hidup ini tengah bergerak di atas takdir yang luar biasa, Dia juga menyediakan takdir-takdir mana yang bisa kita pilih. Setiap keputusan yang kita ambil, setiap langkah yang kita buat, apakah kita pernah memikirkan selain diri sendiri di saat mempertimbangkannya? Mungkin dari detik ini, kita mau peduli untuk sekadar membantu agar kebahagiaan sederhana orang lain dapat terwujud.
Kamu mau kan menjadi salah satunya?:)
-Annisa Habibah-
@annisahab
(Source : Pinterest)
Komentar
Posting Komentar