"Setiap yang bernyawa pasti akan mati" Begitu agama berbicara. Tapi ini bukan soal nyawa, bukan juga soal seorang yang dicinta pergi meninggalkan kita. Tapi ini tentang sebuah asa, asa yang sedari kecil dibangun untuk kemudian dibesarkan. Asa yang sedari bibit ditanam, dengan maksud agar kian hari terus dipupuk kemudian tumbuh menjadi suatu asa yang kokoh dan kuat. Tapi tidak untuk detik ini, asa yang ku tanam sedari bibit justru seolah orang lain injak-injak. Asa yang ku bangun dengan kepercayaan justru ku buat menjadi seorang pecundang. Aku menyalahkan orang lain, ku salahkan diri mu yang jauh melampaui dan terus mengejar asa mu. Aku iri dengan mu, ku temukan segala sesuatunya sempurna pada diri mu. Apa kamu tau, setiap waktu ceritanya adalah tentang mu, segala menit pembahasannya melulu mengenai mu, bahkan ada suatu waktu yang memojokan diri ku untuk terus mengagumi diri mu. Ia bercerita banyak tentang mu, hatinya gembira saat kata demi kata ia rangkai dengan sempurna, ...
Ketika dunia memiliki ragam warna, disanalah tercipta kata, bahasa, rasa, dan cinta. Dengan satu kesatuan itu, dunia yang berwarna akan lebih indah. -Annhab