Langsung ke konten utama

Postingan

Catatan Rumah Tangga #2

  "Jangan biarkan masalah itu terdengar keluar dari pintu kamar kita. Biarkan dia menemui titik selesainya di dalam saja" Selain sabar dan shalat, kunci selanjutnya yang perlu kau pegang adalah jujur dan percaya. Sama halnya dalam rumah tangga, laki-laki yang kau pilih untuk menjadi imammu itu adalah orang asing yang hadirnya kini dibebani pada seluruh kebaikan atau keburukan istrinya kelak. Orang asing yang padanya kau merasa yakin, ada satu perasaan yang berbeda, entah dideskripsikan seperti apa. Perjalanan ini bukanlah perjalanan yang selalu menjanjikan aspalnya mulus, akan banyak kau temui jalan yang berkelok, tanjakan yang curam, turunan yang perlu banyak perhatian dan pengendalian. Kau harus percaya bahwa atas izin Allah, kau berada bersama dengan orang yang tepat.  Tidak ada kepala yang indah dengan berjuta variasi warna rambut. Hitam atau putih adalah dua pilihan mutlak yang tidak bisa dicederai. Jangan biarkan orang lain berpendapat tentang berbagai warna yang cocok ...
Postingan terbaru

Perjalanan Sebuah Pilihan

Semoga Allaah merahmati kita semua dengan rahmat yang luas, yang dengan rahmat itu hidup akan terasa lebih mudah, termasuk taufik untuk memilih mana yang baik dan buruk. Kita hari ini adalah kita yang banyak mengalami perubahan, kita kecil tentu berbeda dengan kita saat dewasa ini, pemilihan warna baju, hiburan, sesuatu yang kita lihat dan dengar, teman, lingkungan bahkan prinsip hidup. Jika hari-hari sebelumnya kita bebas memilih sesuatu cukup untuk kesenangan, maka hari ini tidak hanya sampai situ. Kita akan menghadapi banyak sekali kesempatan untuk memilih, apapun itu. Yang lebih ga mudah lagi, ketika kita memilih kita harus siap dengan konsekuensi yang kita pilih. Tapi kebanyakan dari kita ga siap menerima konsekuensi atas pilihan tersebut. Contohnya ketika kita jujur mau berubah dan berupaya menata diri menjadi lebih baik dari sebelumnya, maka ga heran orang-orang disekitar sadar dengan perubahan itu. Dia yang sayang dan tulus kepada kita akan mendukung pilihan baik itu, namun ber...

Jalanin Aja

Bismillah Ga berasa yaa, kita udah melewati setengah tahun di 2022, terus gimana keadaannya? Ya jawab aja, ga gimana-gimana. Tapi ada satu yang mau gue highlight nih, ohiya (FYI) gue suka banget ngobrol sama teman atau orang lain yang usianya lebih tua dari gue, nasihat Revi rahimahullah sangat melekat dalam ingatan. Jadi, beberapa hari lalu gue bercerita tentang keresahan hati ke salah satu teman kampus, sebut aja dia Riri. Hari itu kita banyak cerita, dan anehnya gue baru tau tentang UKT semesteran dia yang nembus golongan tertinggi. Riri cerita tentang keharusannya untuk bisa lulus semester ini. Iya, tau kan. Kami adalah mahasiswa semester akhir yang sedang menikmati perskrispian. Gue melihat Riri adalah mahasiswa yang aktif, bersemangat, pintar dan juga dewasa. Gue suka banget sama kata-katanya dia yang mengingatkan buat ga menunjukkan keluh-kesahnya kita dihadapan orang lain, gue suka banget dengan kata-katanya dia supaya kita selalu menampakkan senyum dihadapan teman yang lain....

Maret

[ 69/365] Hai aku kecil, apa kabar? aku kecil, pernahkah dulu kita membayangkan akan sampai pada hari ini? Aku masih mengingat mimpi masa kecilku– menjadi dokter, aku rasa itu bukan mimpi anak kecil pada umumnya. Oh iya, aku juga ingat terakhir, belum lama, ketika lulus sekolah kemudian melamar kerja lalu ditanya, "Lima tahun kedepan kamu akan menjadi seperti apa?" Lalu aku jawab dengan penuh semangat tanpa tau lagi, kalau realitanya seperti ini. Kataku, "Aku ingin punya sekolah, mau buka usaha ini dan itu, menulis buku a sampai z dan masih banyak lagi!" Seiring berjalannya waktu dan aku bertumbuh dewasa, mimpi-mimpiku dibentuk sekitar untuk lebih realis dan sadar akan takdirNya. Hai aku kecil, kalau kamu tau aku yang sekarang tidak lebih baik dari beberapa tahun belakangan ini, apa yang akan kamu katakan? Pasti, kamu mau tunjuk-tunjuk sambil bilang, dulu mimpimu banyak, tapi sekarang kok belum ada yang tercapai? Kamu juga pasti marah aku kecil, kalau sudah dewasa g...

Januari 2022

#Tentang Kekhawatiran Sepekan terakhir ini. Tamatan SMK, mahasiswa tingkat akhir yang mengambil jurusan kuliah keluar jalur. Berusia 22 dan masih pengangguran. Enak banget ya rasanya, menyebutkan banyak ketertinggalan pada diri sendiri. Ya, singkatnya saya pengangguran. Saya menghabiskan waktu dengan melakukan hal-hal tidak berguna; pindah dari satu ruang ke ruang lain di rumah, membaca bacaan-bacaan yang beredar di timeline , berbaring di lantai, seringnya belajar buat ga tertinggal nyatanya juga belum mulai-mulai, membaca lagi, sesekali mengambil gambar yang ga tau juga ditunjukkan untuk apa, menyapu lantai, bermain dengan kucing, dan seringnya usil sama abang. Tak ada satupun yang masuk kategori pekerjaan yang menghasilkan uang secara langsung. Setiap kali ketakutan saya terhadap realita dan kebencian saya terhadap dunia muncul, saya akan mencari tempat untuk sekedar menetap, tidak mengobrol dengan siapa pun dan tidak melakukan banyak kontak fisik terhadap apa pun, capek soalnya. Ud...

Perantara-Nya

Jika melihat perjalanan sebelumnya, aku kecil merupakan seorang gadis manja, menjadi kesayangan keluarganya. Gadis kecil yang tidak bisa apa-apa sendiri, cengeng dan lemah, yaa hanya tumbuh di lingkungan seperti pada umumnya. Mengaji di masjid dekat rumah, menghafal rukun islam dan rukun iman sebatas pelajaran agama di sekolah. Siklus pendidikan yang berjalan normal, wajib belajar sembilan tahun, dan syukurnya bisa sampai lulus SMK. Ternyata dari aku yang kecil sampai menjelang remaja, bekal ilmu agama hanya sebatas pada pelajaran agama dan tambahan organisasi keislaman yang ada di sekolah. Kalau aku yang sekarang bisa ngomong sama aku kecil, rasanya mau bilang "Kamu dulu sangat menjengkelkan ya, ga berusaha lebih, buat belajar agama yang benar!" Manusia seringnya sok tau, mencela takdir-Nya tapi ga berusaha mengambil hikmah dari setiap kejadian. Dulu aku mempertanyakan banyak hal 'kenapa' pada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kenapa setelah lulus SMK ga langsung diteri...

Tujuh bulan Agustus

Seorang laki-laki dengan kaus putih tiba-tiba berdiri di kejauhan, melambaikan tangan mengisyaratkan pulang. Sepersekian detik yang akan datang tidak seorang pun mampu memprediksikan. Katanya "Kalau tau, aku yang hari ini sudah berkalang tanah. Ku pastikan hari terakhir sebelumnya, menjadi hari saat aku benar-benar meminta ampun." “Hingga apabila datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata, “Ya Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku beramal shalih terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan dihadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.” (Qs. Al Mukminun: 99-100) Pun sebaliknya, amat sangat bahagia, saat lembaran semasa hidup, dipenuhi jejak-jejak kebaikan. Ketika ia yang terbujur kaku, melihat tangis orang-orang yang tersayang. Tersenyum, lantas bersyukur, bahagia atas ujian dan fitnah dunia yang telah berhasil dilaluinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إ...