Bismillahirrahmanirrahim.
Ramadhan ditengah wabah corona. Sudah sejak dua bulan ini, bumi di gemparkan dengan makhluk kecil kepunyaan Allah yang mampu meluluhlantakkan manusia. Mungkin jauh sebelum wabah ini datang, manusia banyak berencana, tentang waktu yang ingin ia habiskan untuh huru-hara, tentang uangnya yang ingin dibelanjakan berbagai macam kebutuhan, tentang dirinya yang condong akan dunia. Namun manusia tidak boleh lupa, bahwa penentu takdir atas dirinya, adalah Allah SWT. Orang-orang ramai mengampanyekan agar kita tetap harus #dirumahaja, sebagai upaya pemutus mata rantai penyebaran virus corona. Sehari, sepekan, sampai sebulan, mungkin terasa jenuh. Menghadapi kenyataan dengan siklus baru seperti ini. Apalagi pada masa ramadhan seperti ini, yang tadinya masjid ramai diiisi oleh orang-orang yang berbondong menempatkan pada shaf-shaf awal shalatnya, kerinduan untuk menghidupkan malam lailatul qadr disepuluh hari terakhir seperti ini. Semua terasa berbeda, namun, setiap apa yang Allah takdirkan. Itu adalah yang terbaik untuk hambanya. Andai semua orang memakai kacamata sukur dalam melihat fenomena wabah corona ini, kita diberikan banyak waktu untuk mengisi hari-harinya terkhusus dalam bulan ramadhan tahun ini. Waktu untuk berkumpul bersama keluarga, jika umumnya mahasiswa harus pulang telat karena jalanan yang macet, sekarang sebelum maghrib justru kita bisa membantu orang tua, kenikmatan waktu luang yang jauh lebih berharga. Yang menjadi tanda tanya adalah, apa benar waktu luang yang diberikan Allah ini sudah kita pergunakan dengan semaksimal mungkin?
Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapatkan ampunan Allah SWT.
aamiin
24 Ramadhan 1441 H
Komentar
Posting Komentar