Ada banyak hal yang memungkinkan manusia berkaca pada dirinya sendiri, "Saya lebih baik dibanding dia", "wah, dia tidak ada apa-apanya", rasa sombong yang mungkin baik disengaja atau tidak disengaja sekali pun kadang datang membisikan diri. Hati manusia siapa yang tau? Bukankah tak pantas rasanya melihat apa maksud dan tujuan seseorang melakukan ini dan itu. Jadi tak perlu mengambil job desknya para malaikat. Sengaja atau pun tidak, ada kebahagiaan sendiri saat kita melakukan kebaikan yang bermanfaat untuk orang lain. Dan seringkali semuanya 'mungkin' menjadi sia-sia. Sebab apa? Sebab nafsu ambil andil bagiannya, setan tak bosan untuk terus membisikan niat buruknya. Jadi, akan ada pujian yang membungkus niat baik itu menjadi kurang baik.
Tidak menutup kemungkinan, yang belum baik esok menjadi jauh lebih baik. Atau pun sebaliknya, apa mungkin diri yang kita anggap sudah paling baik ini justru dibuntuti oleh niat agar terlihat baik didepan orang. Benarkah diri yang kita anggap paling baik ini, memiliki tujuan dan niat yang murni? Niat yang semata-mata hanya untuk Rabbnya. Lalu perilaku yang seperti apa yang membenarkan bahwa diri kitalah yang lebih baik dibanding orang lain? Apa karena jilbab yang teramat lebar, atau laki-laki yang dengan senang memakai peci? Sekecil itukah, lantas kita beranggapan diri ini menjadi jauh-jauh lebih baik dibanding mereka. Sementara, hidayah bisa datang kapan pun, kepada siapa pun dan melalui jalan apa pun.
Diri Mu Paling Baik? Versi Siapa?
Jadi baik kita, versi siapa? Tujuan kita untuk apa? Apakah tujuannya adalah eksistensi sehingga membuat kita selalu ingin menjadi orang pertama dan utama agar orang lain melihat bahwa diri kita paling baik? Ketika banyak orang merasa bahagia dengan apa yang sudah kita lakukan untuk mereka, ketika kita merasa sudah cukup membantu banyak orang, ketika itu pula mungkin kita sudah merasa bahwa diri kita yang paling baik, pertanyaannya adalah, “Apa sebenarnya yang membuat kita merasa menjadi paling baik? Indikator versi siapa yang sedang kita gunakan?” Dalam Al-Qur’an Allah berfirman, “Dan Kami perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami akan jadikan amal itu bagaikan debu yang bertebaran.” (Q.S 25 : 23)
Semoga, bentuk baik yang akan kita pelajari dan terus galih adalah kebaikan versi Allah SWT. Dengan tujuan yang sebaik-baiknya tujuan, dan niat yang murni hanya untuk Rabbnya.
Mungkin, telah banyak niat dan tujuan yang berbelok. Semoga esok kau dituntun untuk berniat karena-Nya. Aamiin
Aku memperingati, untuk seorang yang menulis ini.
Mungkin, telah banyak niat dan tujuan yang berbelok. Semoga esok kau dituntun untuk berniat karena-Nya. Aamiin
Aku memperingati, untuk seorang yang menulis ini.
Annisa Habibah
22:11
Sabtu, 12 Mei 2018
Komentar
Posting Komentar