"Setiap yang bernyawa pasti akan mati" Begitu agama berbicara. Tapi ini bukan soal nyawa, bukan juga soal seorang yang dicinta pergi meninggalkan kita. Tapi ini tentang sebuah asa, asa yang sedari kecil dibangun untuk kemudian dibesarkan. Asa yang sedari bibit ditanam, dengan maksud agar kian hari terus dipupuk kemudian tumbuh menjadi suatu asa yang kokoh dan kuat. Tapi tidak untuk detik ini, asa yang ku tanam sedari bibit justru seolah orang lain injak-injak. Asa yang ku bangun dengan kepercayaan justru ku buat menjadi seorang pecundang. Aku menyalahkan orang lain, ku salahkan diri mu yang jauh melampaui dan terus mengejar asa mu. Aku iri dengan mu, ku temukan segala sesuatunya sempurna pada diri mu. Apa kamu tau, setiap waktu ceritanya adalah tentang mu, segala menit pembahasannya melulu mengenai mu, bahkan ada suatu waktu yang memojokan diri ku untuk terus mengagumi diri mu. Ia bercerita banyak tentang mu, hatinya gembira saat kata demi kata ia rangkai dengan sempurna, aku liat gelak tawanya yang mewakili setiap perasaannya. Apa kamu tau? Lagi-lagi aku merendah dihadapannya, aku ingin terus menerus mendengarkan ceritanya, meski ku tau sulit rasanya untuk aku menyetarakan kedudukan ku dengan mu. Itu bukan tentang perasaan ku, lain lagi dengan kecakapan dan kepiawaian mu. Aku merasa, kemarin saat semua terlihat tidak ada apa-apa aku berupaya memulihkan kembali perjuangan ku untuk mengembangkan dan menyemangati diri ku mengejar segala asa. Tapi? Lagi lagi mengenai mu, kau bisa menyalahkan aku detik ini, mungkin kau pun bisa menilai ku buruk tentang mu, itu kebebasan mu. Karena apa? Karena pembahasan ku ini menyalahkan mu. Hahaha, aku iri dengan mu? Jika IYA!! Mengapa? Bukankah kamu memang sempurna? Bukankah jika orang lain iri terhadap diri kita artinya kita sudah mampu berada diatasnya. Ia, kamu seperti itu! Mungkin detik ini pembaca mulai mengjudge ku seorang yang iri, tapi tolong dengarkan perasaan ku. Kebosanan yang mengungguli mu terkadang membuat ku cemburu, bukan berarti aku tertingal jauh. Tidak, tidak akan pernah aku mengalah. Detik ini semua asa mu mungkin lagi dipermuda oleh-Nya. Tidak, aku tidak iri hanya saja aku merasa rendah dari mu. Kamu, kamu tak akan pernah aku perjelek atau aku rendahakan di depan orang lain, karena memang tidak ada sisi jelek atau rendah yang kau punya? Hanya saja diri ku yang tak mampu menerima bahwa aku tak pantas berada satu lingkup dengan mu, karena apa? karena aku tau bukan aku yang tepat berada dalam lingkup itu. Bukan aku yang tepat untuk berada setara dengan satu lingkup mu, karena aku hanyalah angkah 9 dari satu pada diri mu. Jauh bukan? Jauuuhhh. Jauhhh sekalii. Tidak ada fisik yang terluka, hanya saja hati ini tergores terlalu panjang sayatannya. Bukan karena kamu, tapi karena diri ku sendiri yang mungkin terlalu cengeng dan tak melihat sisi terbaik ku.
Tolong, terhenti sejak detik ini ingatkan aku bahwa aku tak pantas berada dalam satu lingkup organisasi dengan mu. ingatkan pada diri ku, bahwa yang seharusnya terpilih itu teman mu. Tidak seperti ku, yang kini sepertinya tak pantas berada satu lingkup dengan mu.
Annisa Habibah.
Tolong, terhenti sejak detik ini ingatkan aku bahwa aku tak pantas berada dalam satu lingkup organisasi dengan mu. ingatkan pada diri ku, bahwa yang seharusnya terpilih itu teman mu. Tidak seperti ku, yang kini sepertinya tak pantas berada satu lingkup dengan mu.
Annisa Habibah.

Komentar
Posting Komentar