Langsung ke konten utama

Ketika Asa Patah, Kemudian Mati

"Setiap yang bernyawa pasti akan mati" Begitu agama berbicara. Tapi ini bukan soal nyawa, bukan juga soal seorang yang dicinta pergi meninggalkan kita. Tapi ini tentang sebuah asa, asa yang sedari kecil dibangun untuk kemudian dibesarkan. Asa yang sedari bibit ditanam, dengan maksud agar kian hari terus dipupuk kemudian tumbuh menjadi suatu asa yang kokoh dan kuat. Tapi tidak untuk detik ini, asa yang ku tanam sedari bibit justru seolah orang lain injak-injak. Asa yang ku bangun dengan kepercayaan justru ku buat menjadi seorang pecundang. Aku menyalahkan orang lain, ku salahkan diri mu yang jauh melampaui dan terus mengejar asa mu. Aku iri dengan mu, ku temukan segala sesuatunya sempurna pada diri mu. Apa kamu tau, setiap waktu ceritanya adalah tentang mu, segala menit pembahasannya melulu mengenai mu, bahkan ada suatu waktu yang memojokan diri ku untuk terus mengagumi diri mu. Ia bercerita banyak tentang mu,  hatinya gembira saat kata demi kata ia rangkai dengan sempurna, aku liat gelak tawanya yang mewakili setiap perasaannya. Apa kamu tau? Lagi-lagi aku merendah dihadapannya, aku ingin terus menerus mendengarkan ceritanya, meski ku tau sulit rasanya untuk aku menyetarakan kedudukan ku dengan mu. Itu bukan tentang perasaan ku, lain lagi dengan kecakapan dan kepiawaian mu. Aku merasa, kemarin saat semua terlihat tidak ada apa-apa aku berupaya memulihkan kembali perjuangan ku untuk mengembangkan dan menyemangati diri ku mengejar segala asa. Tapi? Lagi lagi mengenai mu, kau bisa menyalahkan aku detik ini, mungkin kau pun bisa menilai ku buruk tentang mu, itu kebebasan mu. Karena apa? Karena pembahasan ku ini menyalahkan mu. Hahaha, aku iri dengan mu? Jika IYA!! Mengapa? Bukankah kamu memang sempurna? Bukankah jika orang lain iri terhadap diri kita artinya kita sudah mampu berada diatasnya. Ia, kamu seperti itu! Mungkin detik ini pembaca mulai mengjudge ku seorang yang iri, tapi tolong dengarkan perasaan ku. Kebosanan yang mengungguli mu terkadang membuat ku cemburu, bukan berarti aku tertingal jauh. Tidak, tidak akan pernah aku mengalah. Detik ini semua asa mu mungkin lagi dipermuda oleh-Nya. Tidak, aku tidak iri hanya saja aku merasa rendah dari mu. Kamu, kamu tak akan pernah aku perjelek atau aku rendahakan di depan orang lain, karena memang tidak ada sisi jelek atau rendah yang kau punya? Hanya saja diri ku yang tak mampu menerima bahwa aku tak pantas berada satu lingkup dengan mu, karena apa? karena aku tau bukan aku yang tepat berada dalam lingkup itu. Bukan aku yang tepat untuk berada setara dengan satu lingkup mu, karena aku hanyalah angkah 9 dari satu pada diri mu. Jauh bukan? Jauuuhhh. Jauhhh sekalii. Tidak ada fisik yang terluka, hanya saja hati ini tergores terlalu panjang sayatannya. Bukan karena kamu, tapi karena diri ku sendiri yang mungkin terlalu cengeng dan tak melihat sisi terbaik ku.

Tolong, terhenti sejak detik ini ingatkan aku bahwa aku tak pantas berada dalam satu lingkup organisasi dengan mu. ingatkan pada diri ku, bahwa yang seharusnya terpilih itu teman mu. Tidak seperti ku, yang kini sepertinya tak pantas berada satu lingkup dengan mu.
Annisa Habibah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Karena ku punya semua mimpi yang tak semudah itu kau Lenyapkan"

Bismillah,,, Langkah hebat dengan pencapaian yang menyayat ini sungguh begitu meletihkan. Tuhan, bisakah kau mundurkan waktu ku? Agar aku bisa memilih dan memilah bagaimana hasil dari keputusan mu?  Bolehkah ku meminta agar aku berkhayal dan mengatur sesuka ku? Jika kau menjawab itu semua dengan suatu dampratan, tolong buat tamparan itu kian mematikan. Agar aku pun bisa bercermin sejauh mana jiwa ini berjuang, sejauh mana langkah ini terus menerjang jalan yang begitu terjal, agar aku bisa mengakhirinya dalam proses terhormat dengan sebuah tamparan yang mematikan. Kau pun menjawab semuanya Rabb, Kau tampar aku sedemikian dahsyat sampai akhirnya asa ini mulai terkikis, Kau pun dengan tega'nya mengatur seperti apa mau mu, kian hati ini melulu menyalahkan-Mu, tak mempercayai bahwa diri ini mampu terbawa sepeti mau ku sesuai dengan khendak-Mu. Rupanya pemikiran ku terlalu dangkal, angan ku terlalu cetek dan penilaian tentang diri ku pun belum dapat ku mengerti. Sampai akhirnya aku me...

Catatan Rumah Tangga #2

  "Jangan biarkan masalah itu terdengar keluar dari pintu kamar kita. Biarkan dia menemui titik selesainya di dalam saja" Selain sabar dan shalat, kunci selanjutnya yang perlu kau pegang adalah jujur dan percaya. Sama halnya dalam rumah tangga, laki-laki yang kau pilih untuk menjadi imammu itu adalah orang asing yang hadirnya kini dibebani pada seluruh kebaikan atau keburukan istrinya kelak. Orang asing yang padanya kau merasa yakin, ada satu perasaan yang berbeda, entah dideskripsikan seperti apa. Perjalanan ini bukanlah perjalanan yang selalu menjanjikan aspalnya mulus, akan banyak kau temui jalan yang berkelok, tanjakan yang curam, turunan yang perlu banyak perhatian dan pengendalian. Kau harus percaya bahwa atas izin Allah, kau berada bersama dengan orang yang tepat.  Tidak ada kepala yang indah dengan berjuta variasi warna rambut. Hitam atau putih adalah dua pilihan mutlak yang tidak bisa dicederai. Jangan biarkan orang lain berpendapat tentang berbagai warna yang cocok ...

Maret

[ 69/365] Hai aku kecil, apa kabar? aku kecil, pernahkah dulu kita membayangkan akan sampai pada hari ini? Aku masih mengingat mimpi masa kecilku– menjadi dokter, aku rasa itu bukan mimpi anak kecil pada umumnya. Oh iya, aku juga ingat terakhir, belum lama, ketika lulus sekolah kemudian melamar kerja lalu ditanya, "Lima tahun kedepan kamu akan menjadi seperti apa?" Lalu aku jawab dengan penuh semangat tanpa tau lagi, kalau realitanya seperti ini. Kataku, "Aku ingin punya sekolah, mau buka usaha ini dan itu, menulis buku a sampai z dan masih banyak lagi!" Seiring berjalannya waktu dan aku bertumbuh dewasa, mimpi-mimpiku dibentuk sekitar untuk lebih realis dan sadar akan takdirNya. Hai aku kecil, kalau kamu tau aku yang sekarang tidak lebih baik dari beberapa tahun belakangan ini, apa yang akan kamu katakan? Pasti, kamu mau tunjuk-tunjuk sambil bilang, dulu mimpimu banyak, tapi sekarang kok belum ada yang tercapai? Kamu juga pasti marah aku kecil, kalau sudah dewasa g...