Sudah redup rasanya penglihatan ini, malam teramat cepat berlalu memutari poros setiap detiknya. Sekarang sudah pukul 23.50 kelak akan ada 10 menit yang akan datang. Mensyukuri apa yang telah aku miliki sampai saat ini. Aku wanita, kata orang besar diluar sana "Surga itu ada di telapak kaki ibu." Mengapa demikian? Apa karena Ibu itu wanita yang mudah meminta dan memuji kepada Rabb nya?. Apa semua anak bayi yang dilahirkan, lahir lalu mengenali ibu nya, merangkul nya, menerima kehangatan dan nangis dalam kehangatan itu sendiri. Mungkin semua alasan itu yang mengatakan bahwa surga ada di telapak kaki Ibu.
Tapi, apa kita tidak kesal? Ketika sedang asik bermain wanita yang dipanggil dengan sebutan Ibu itu meminta kita untuk berhenti lalu mencuci tangan, kemudian beralih ke tempat tidur. Bagimana? Ketika kita beranjak remaja, saat memang harus ada agenda untuk berkumpul dan sehari atau dua hari kita tak di rumah. Lalu suara yang sungguh membuat kita ingin cepat cepat menanggapi, kemudian wanita itu bilang "Kamu kemana aja nak, jam segini baru pulang?" Bosan rasanya ketika harus pulang dan ditanyakan hal yang sama. Atau ketika berdiam diri dirumah, lalu sang ibu justru bertanya "Kok dirumah terus, sana gih keluar biar bisa bersosialisasi?" ini adalah pertanyaan yang membingungkan.
Ibu, bisakah aku mengerti mau mu? Jangan bertanya bagaimana hari ku diluar rumah, tapi tolong ceritakan pada ku bagaimana saat orang tua mu mendidik mu, hingga menjadikan kamu seorang ibu yang baik kepada ku. Tolong ceritakan pada ku, bagaimana cerita kisah perjalanan mu dengan ayah. Kau tak pernah sekali waktu menangis di depan ku, meski pun aku tau kau menyimpan duka hingga melukai perasaan mu. Ibu,, pernah aku bercerita teman laki-laki ku dengan mu, lalu dengan lucu nya kau meledek ku, berbeda dengan ayah. Kau menanyakan terus menerus siapa teman laki-laki itu, meski aku tak mau memberitahu mu, bedanya kau bukan memarahi ku lantaran aku harus bercerita tentang laki-laki itu. Kau justru malah menceritakan bagaimana perjalanan cinta mu semasa ku dulu.
Ibu, dalam keadaan aku yang kian remaja dan dewasa ini ajarkan pada ku kesabaran seperti sabarnya diri mu, karena pasti ada suatu waktu ketika perilaku ku membuat mu marah, suatu waktu ketika ucapan ku harus melukai mu. Atau kita yang pernah saling diam, tidak kita. Hanya aku, kau teramat baik untuk ku. Ketika aku yang marah dengan mu karena kesalahan ku, justru malah engkau yang mengalah dan meminta maaf. Ajarkan pada ku untuk tidak lemah di hadapan orang, sekali pun dihadapan orang yang kita sayang. Karena kau hanya menangis ketika dirumah sepi, itu juga kau sendiri dan itu juga jika terlihat orang lain alasannya pasti hanya karena kelilipan debu. Terbuat dari apa hati mu Bu? Lalu benarkan cerita ibu tiri?. Ibu tiri yang dicerita dongengnya adalah seorang wanita, seorang ibu yang jahat untuk anaknya. Bisakah, kau pertegas kepada ku bahwa memang ada seperti itu, tapi tidak untuk ku.
Ma, 15 tahun yang lalu aku dilahirkan. Kata mama, semua peralatan ada disekitar mama, mama selalu cerita ketika harus menambah dan menerima darah orang lain supaya aku tetap sehat. Sesar, pilihan dalam melahirkan. Dan kini, usia mama pun kian berkurang. Tolong, ma ceritakan hal-hal seperti itu, agar tersentuh hati ku, dengan harapan ketika aku terus menerus mendengar pengorbanan mama, aku bisa termotivasi untuk menjadi seorang yang baik dan benar untuk keluarga, bahkan agar aku termotivasi untuk menjadi seorang yang kelak membahagiakan mama.
Ma, tolong jangan mengharuskan aku untuk berdiri, mencium kening mu lalu mengucapkan selamat bertambahnya umur mu. Tolong, bukan karena aku tak mau. Tapi entah mengapa keluh rasanya lidah ini, gemetar rasanya, dan aku yakin pasti akan ada air mata yang membasahi. Jujur, aku begitu malu untuk menyatakan bahwa aku mencintai mu, bukan lantaran malu apa. Tapi aku malu dengan diri ku, yang kerap kali menyakiti, melukai bahkan mungkin membantah mau mu.
Mama, wanita yang hebat yang terlahir di tanggal dan bulan yang hebat pula. 17 Agustus, waktu dimana kemerdekaan diraih. Semoga kelak, tak hanya negeri ini yang kian hebat, tapi mama pun harus kian hebat. Seperti ini untuk ku sudah hebat, kau hebat dengan menyayangi ku dan mencintai ku hingga sampai saat ini dan seterusnya. Terima kasih Ma, unthk setiap pengorbanan yang sudah kau berikan untuk ku. Doa ku, selamat bertambahnya setaun kepercayaan umur mama yang di berikan Allah, tolong panjang kan umur mama, berilah kesehatan, rezeki dan dijadikan keluarga yang samara. Ma, maafin anis yang banyak salah sama mama. Maafin gadis yang ketika kecil harus kau antar dan kau temanin sekolahnya. Dulu, ketika aku sekolah sampai kelas 4 mama masih mengantar ku. Aku begitu takut kehilngan mama, tak hanya dulu. Untuk sekarang pun aku belum bisa kehilangan mama. Tetep sehat yaa Ma, anis sayang mama. Doa in anis semoga gak suka ngelykai perasaan mama, semoga jadi anak yang shaleha, dan semoga gadis yang manja dulu. Bisa menjadi wanita yang mandiri, dan terbaik depannha aamiin.
Ied Milad Ma, 17 Agustus.
Salam sayang dan hormat untuk mama tercinta.
Annisa Habibah
Tapi, apa kita tidak kesal? Ketika sedang asik bermain wanita yang dipanggil dengan sebutan Ibu itu meminta kita untuk berhenti lalu mencuci tangan, kemudian beralih ke tempat tidur. Bagimana? Ketika kita beranjak remaja, saat memang harus ada agenda untuk berkumpul dan sehari atau dua hari kita tak di rumah. Lalu suara yang sungguh membuat kita ingin cepat cepat menanggapi, kemudian wanita itu bilang "Kamu kemana aja nak, jam segini baru pulang?" Bosan rasanya ketika harus pulang dan ditanyakan hal yang sama. Atau ketika berdiam diri dirumah, lalu sang ibu justru bertanya "Kok dirumah terus, sana gih keluar biar bisa bersosialisasi?" ini adalah pertanyaan yang membingungkan.
Ibu, bisakah aku mengerti mau mu? Jangan bertanya bagaimana hari ku diluar rumah, tapi tolong ceritakan pada ku bagaimana saat orang tua mu mendidik mu, hingga menjadikan kamu seorang ibu yang baik kepada ku. Tolong ceritakan pada ku, bagaimana cerita kisah perjalanan mu dengan ayah. Kau tak pernah sekali waktu menangis di depan ku, meski pun aku tau kau menyimpan duka hingga melukai perasaan mu. Ibu,, pernah aku bercerita teman laki-laki ku dengan mu, lalu dengan lucu nya kau meledek ku, berbeda dengan ayah. Kau menanyakan terus menerus siapa teman laki-laki itu, meski aku tak mau memberitahu mu, bedanya kau bukan memarahi ku lantaran aku harus bercerita tentang laki-laki itu. Kau justru malah menceritakan bagaimana perjalanan cinta mu semasa ku dulu.
Ibu, dalam keadaan aku yang kian remaja dan dewasa ini ajarkan pada ku kesabaran seperti sabarnya diri mu, karena pasti ada suatu waktu ketika perilaku ku membuat mu marah, suatu waktu ketika ucapan ku harus melukai mu. Atau kita yang pernah saling diam, tidak kita. Hanya aku, kau teramat baik untuk ku. Ketika aku yang marah dengan mu karena kesalahan ku, justru malah engkau yang mengalah dan meminta maaf. Ajarkan pada ku untuk tidak lemah di hadapan orang, sekali pun dihadapan orang yang kita sayang. Karena kau hanya menangis ketika dirumah sepi, itu juga kau sendiri dan itu juga jika terlihat orang lain alasannya pasti hanya karena kelilipan debu. Terbuat dari apa hati mu Bu? Lalu benarkan cerita ibu tiri?. Ibu tiri yang dicerita dongengnya adalah seorang wanita, seorang ibu yang jahat untuk anaknya. Bisakah, kau pertegas kepada ku bahwa memang ada seperti itu, tapi tidak untuk ku.
Ma, 15 tahun yang lalu aku dilahirkan. Kata mama, semua peralatan ada disekitar mama, mama selalu cerita ketika harus menambah dan menerima darah orang lain supaya aku tetap sehat. Sesar, pilihan dalam melahirkan. Dan kini, usia mama pun kian berkurang. Tolong, ma ceritakan hal-hal seperti itu, agar tersentuh hati ku, dengan harapan ketika aku terus menerus mendengar pengorbanan mama, aku bisa termotivasi untuk menjadi seorang yang baik dan benar untuk keluarga, bahkan agar aku termotivasi untuk menjadi seorang yang kelak membahagiakan mama.
Ma, tolong jangan mengharuskan aku untuk berdiri, mencium kening mu lalu mengucapkan selamat bertambahnya umur mu. Tolong, bukan karena aku tak mau. Tapi entah mengapa keluh rasanya lidah ini, gemetar rasanya, dan aku yakin pasti akan ada air mata yang membasahi. Jujur, aku begitu malu untuk menyatakan bahwa aku mencintai mu, bukan lantaran malu apa. Tapi aku malu dengan diri ku, yang kerap kali menyakiti, melukai bahkan mungkin membantah mau mu.
Mama, wanita yang hebat yang terlahir di tanggal dan bulan yang hebat pula. 17 Agustus, waktu dimana kemerdekaan diraih. Semoga kelak, tak hanya negeri ini yang kian hebat, tapi mama pun harus kian hebat. Seperti ini untuk ku sudah hebat, kau hebat dengan menyayangi ku dan mencintai ku hingga sampai saat ini dan seterusnya. Terima kasih Ma, unthk setiap pengorbanan yang sudah kau berikan untuk ku. Doa ku, selamat bertambahnya setaun kepercayaan umur mama yang di berikan Allah, tolong panjang kan umur mama, berilah kesehatan, rezeki dan dijadikan keluarga yang samara. Ma, maafin anis yang banyak salah sama mama. Maafin gadis yang ketika kecil harus kau antar dan kau temanin sekolahnya. Dulu, ketika aku sekolah sampai kelas 4 mama masih mengantar ku. Aku begitu takut kehilngan mama, tak hanya dulu. Untuk sekarang pun aku belum bisa kehilangan mama. Tetep sehat yaa Ma, anis sayang mama. Doa in anis semoga gak suka ngelykai perasaan mama, semoga jadi anak yang shaleha, dan semoga gadis yang manja dulu. Bisa menjadi wanita yang mandiri, dan terbaik depannha aamiin.
Ied Milad Ma, 17 Agustus.
Salam sayang dan hormat untuk mama tercinta.
Annisa Habibah
Komentar
Posting Komentar