#Tentang Kekhawatiran Sepekan terakhir ini.
Tamatan SMK, mahasiswa tingkat akhir yang mengambil jurusan kuliah keluar jalur. Berusia 22 dan masih pengangguran. Enak banget ya rasanya, menyebutkan banyak ketertinggalan pada diri sendiri.
Ya, singkatnya saya pengangguran.
Saya menghabiskan waktu dengan melakukan hal-hal tidak berguna; pindah dari satu ruang ke ruang lain di rumah, membaca bacaan-bacaan yang beredar di timeline, berbaring di lantai, seringnya belajar buat ga tertinggal nyatanya juga belum mulai-mulai, membaca lagi, sesekali mengambil gambar yang ga tau juga ditunjukkan untuk apa, menyapu lantai, bermain dengan kucing, dan seringnya usil sama abang.
Tak ada satupun yang masuk kategori pekerjaan yang menghasilkan uang secara langsung.
Setiap kali ketakutan saya terhadap realita dan kebencian saya terhadap dunia muncul, saya akan mencari tempat untuk sekedar menetap, tidak mengobrol dengan siapa pun dan tidak melakukan banyak kontak fisik terhadap apa pun, capek soalnya. Udah di luar, harus mengeluarkan tenaga pula. Dan seringnya tempat itu cuma ada di masjid-masjid yang jarang orang-orang datengin, terutama pada circle pertamaan saya saat ini.
Lantas, kehidupan saya bagaimana?
Meskipun pengangguran, status lain saya adalah mahasiswa, finansial saya masih ditanggung orangtua.
Sekarang, satu-satunya hal yang saya lakukan adalah melakukan hal-hal tidak berguna yang saya sebutkan di atas untuk tetap mempertahankan kewarasan di semester akhir ini yang dipenuhi kultur ambisius dan rentan penyakit mental. Yang penting waras dulu, hal-hal penting lainnya bisa menyusul. Terlebih tentang pencapaian orang lain yang sebenernya hak mereka juga untuk membagikan apapun itu, cuma rasanya wajar pula jika diri menahan untuk tidak peduli tentang apa yang orang lain bagikan, nikmat. Menurut saya, sebisa mungkin orang lain gak perlu tau apa-apa, tentang apa yang kita rasakan, kesedihan, dan apa yang tengah di usahakan. Sadar kalau harapan saya terlalu tinggi, tapi ga sabar dalam prosesnya. Seringkali mengeluh di waktu yang seharusnya dipenuhi rasa syukur. Dasar saya!
#Tentang nasihat-nasihat.
Beberapa tulisan berikut ini, menjadi ketenangan sendiri buat saya pribadi ketika membacanya.
•Berkata Imam Ibnu Al-Jauzi rahimahullah:
"Menyembunyikan kesulitan-kesulitan itu adalah termasuk menutupi rahasia. Karena dengan menampakkannya akan membuat senang orang yang membenci, dan akan membuat sedih orang-orang yang mencintai."
(Shaidul Khatir, 1/274)
•QS. An-Nisa ayat 32
وَلَا تَتَمَنَّوْا۟ مَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بِهِۦ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍۚ لِّلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِّمَّا ٱكْتَسَبُوا۟ۖ وَلِلنِّسَآءِ نَصِيبٌ مِّمَّا ٱكْتَسَبْنَۚ وَسْـَٔلُوا۟ ٱللَّهَ مِن فَضْلِهِۦٓۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمًا
Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
•Hatimu hanya butuh berprasangka baik, karena siapa yang bertawakal kepada-Nya tak akan menemukan kecewa diakhir. Percayalah...
•Jangan malas, kamu sedang bersaing dengan umur orang tuamu yang semakin hari semakin bertambah, sedang kamu masih harus membahagiakannya sebelum pintu syurga yang paling tengah itu tiada.
•Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda;
"... Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah..." (HR. Muslim)
Kunci dari semua urusan kita adalah tentang tauhid, mempercayai takdir, dan semua itu memang ga mudah, kecuali yang Allah berikan taufik. Salah satu nasihat ustadzuna dalam setiap kajiannya, bahwa inti permasalahannya dan keterpurukan kita hari ini bukan akhir dari segalanya, kita harus menyikapinya dengan iman dan ilmu.
Semoga tulisan ini bisa jadi penyemangat buat diri sendiri, sekaligus pengingat, sekaligus evaluasi.
Jakarta,
29 Jumadil Akhir 1443 H / 31 Januari 2022
23.15
–annhab
Komentar
Posting Komentar