Langsung ke konten utama

Jalanin Aja

Bismillah
Ga berasa yaa, kita udah melewati setengah tahun di 2022, terus gimana keadaannya? Ya jawab aja, ga gimana-gimana. Tapi ada satu yang mau gue highlight nih, ohiya (FYI) gue suka banget ngobrol sama teman atau orang lain yang usianya lebih tua dari gue, nasihat Revi rahimahullah sangat melekat dalam ingatan. Jadi, beberapa hari lalu gue bercerita tentang keresahan hati ke salah satu teman kampus, sebut aja dia Riri. Hari itu kita banyak cerita, dan anehnya gue baru tau tentang UKT semesteran dia yang nembus golongan tertinggi. Riri cerita tentang keharusannya untuk bisa lulus semester ini. Iya, tau kan. Kami adalah mahasiswa semester akhir yang sedang menikmati perskrispian. Gue melihat Riri adalah mahasiswa yang aktif, bersemangat, pintar dan juga dewasa. Gue suka banget sama kata-katanya dia yang mengingatkan buat ga menunjukkan keluh-kesahnya kita dihadapan orang lain, gue suka banget dengan kata-katanya dia supaya kita selalu menampakkan senyum dihadapan teman yang lain. Dia memang seorang yang religius, jadi wajar kalau ucapannya berupa nasihat, semoga Allaah menjaganya.

Kenapa akhirnya gue memilih dia untuk jadi teman cerita? karena dari nasihatnya tadi semua diterapin dalam kehidupannya, jarang banget gue ngeliat Riri murung atau berkeluh-kesah. Gue melihatnya selalu senyum, ceria, memberikan energi positif buat sekitarnya. Akhirnya timbul pertanyaan dalam diri gue, "Kok bisa si tetap tenang di era huru-hara yang terjadi". Sampai akhirnya gue mendapatkan sendiri jawabannya. Simpelnya cukup menerima dan terus jalanin!

Jadi berkaca sama diri pribadi, kalau ditanya "Kamu tahun ini apa bakal tenang dan selow kayak tahun sebelumnya?", "Wallahu a'lam". Penting banget buat terus minta pertolongan sama Allaah ï·». Terus dari hal itu, gue jadi lebih tenang menyikapi apa yang akan gue hadapi nantinya. Makin kesini, gue percaya bahwa ketenangan yang ada di hati manusia itu ya milik Allaah. Gue perlu bersyukur juga karena Allaah ngasih ketenangan di hati gue. Gue ga lagi bicara tentang pembelaan sih. Cuman ngelihat yang lain panik dan gue bisa tetap tenang, gue ngerasa tenangnya gue ya bukan karena kepribadian gue udah siap atau gimana..... wkwk

Kadang kita sudah mengilmui bahwa takdir itu pasti baik, tapi ya kita ndak selalu tiba-tiba bersikap sesuai apa yang kita pahami. Kita masih perlu belajar keras untuk menyikapi emosi dengan baik. Jadi kalau gue sekarang tenang sementara yang lain panik, bukan tempatnya juga blaming kepanikan mereka dengan: 
"Kamu kok ga percaya sama takdir sih?"

Didoaain aja, semoga Allah menurunkan ketenangan ke dalam hati kita semua, mau sepelik apapun ujian hidup.

Ditulis pukul 03.02
Di kamar pas ga bisa tidur.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Karena ku punya semua mimpi yang tak semudah itu kau Lenyapkan"

Bismillah,,, Langkah hebat dengan pencapaian yang menyayat ini sungguh begitu meletihkan. Tuhan, bisakah kau mundurkan waktu ku? Agar aku bisa memilih dan memilah bagaimana hasil dari keputusan mu?  Bolehkah ku meminta agar aku berkhayal dan mengatur sesuka ku? Jika kau menjawab itu semua dengan suatu dampratan, tolong buat tamparan itu kian mematikan. Agar aku pun bisa bercermin sejauh mana jiwa ini berjuang, sejauh mana langkah ini terus menerjang jalan yang begitu terjal, agar aku bisa mengakhirinya dalam proses terhormat dengan sebuah tamparan yang mematikan. Kau pun menjawab semuanya Rabb, Kau tampar aku sedemikian dahsyat sampai akhirnya asa ini mulai terkikis, Kau pun dengan tega'nya mengatur seperti apa mau mu, kian hati ini melulu menyalahkan-Mu, tak mempercayai bahwa diri ini mampu terbawa sepeti mau ku sesuai dengan khendak-Mu. Rupanya pemikiran ku terlalu dangkal, angan ku terlalu cetek dan penilaian tentang diri ku pun belum dapat ku mengerti. Sampai akhirnya aku me...

Catatan Rumah Tangga #2

  "Jangan biarkan masalah itu terdengar keluar dari pintu kamar kita. Biarkan dia menemui titik selesainya di dalam saja" Selain sabar dan shalat, kunci selanjutnya yang perlu kau pegang adalah jujur dan percaya. Sama halnya dalam rumah tangga, laki-laki yang kau pilih untuk menjadi imammu itu adalah orang asing yang hadirnya kini dibebani pada seluruh kebaikan atau keburukan istrinya kelak. Orang asing yang padanya kau merasa yakin, ada satu perasaan yang berbeda, entah dideskripsikan seperti apa. Perjalanan ini bukanlah perjalanan yang selalu menjanjikan aspalnya mulus, akan banyak kau temui jalan yang berkelok, tanjakan yang curam, turunan yang perlu banyak perhatian dan pengendalian. Kau harus percaya bahwa atas izin Allah, kau berada bersama dengan orang yang tepat.  Tidak ada kepala yang indah dengan berjuta variasi warna rambut. Hitam atau putih adalah dua pilihan mutlak yang tidak bisa dicederai. Jangan biarkan orang lain berpendapat tentang berbagai warna yang cocok ...

Maret

[ 69/365] Hai aku kecil, apa kabar? aku kecil, pernahkah dulu kita membayangkan akan sampai pada hari ini? Aku masih mengingat mimpi masa kecilku– menjadi dokter, aku rasa itu bukan mimpi anak kecil pada umumnya. Oh iya, aku juga ingat terakhir, belum lama, ketika lulus sekolah kemudian melamar kerja lalu ditanya, "Lima tahun kedepan kamu akan menjadi seperti apa?" Lalu aku jawab dengan penuh semangat tanpa tau lagi, kalau realitanya seperti ini. Kataku, "Aku ingin punya sekolah, mau buka usaha ini dan itu, menulis buku a sampai z dan masih banyak lagi!" Seiring berjalannya waktu dan aku bertumbuh dewasa, mimpi-mimpiku dibentuk sekitar untuk lebih realis dan sadar akan takdirNya. Hai aku kecil, kalau kamu tau aku yang sekarang tidak lebih baik dari beberapa tahun belakangan ini, apa yang akan kamu katakan? Pasti, kamu mau tunjuk-tunjuk sambil bilang, dulu mimpimu banyak, tapi sekarang kok belum ada yang tercapai? Kamu juga pasti marah aku kecil, kalau sudah dewasa g...