Bismillahirrahmanirrahim.
Kenikmatan yang sangat besar saat ini adalah ketika Allah subhanahu wa ta'ala masih memberikan kesempatan untuk kita berjumpa kembali dengan ramadan. Siapa sangka? seseorang yang berbahagia menanti ramadan sehari sebelumnya, kemudian Allah cabut nyawanya. Kematian adalah sebuah pelajaran hebat sekaligus nasihat bagi kita yang Allah karuniai umur panjang. Aku adalah salah satu hamba-Nya yang beruntung itu, dengan bahagia bercampur cemas menanti ramadan tahun ini ditengah kondisi pandemi yang belum hilang. Sebagaimana orang-orang yang bertakwa menyambut dengan bahagia kehadiran ramadan, tidak ada sedikitpun dari kemuliannya yang berubah meski dimasa sulit seperti ini. Ramadan tetap menjadi tamu istimewa bagi seluruh muslim di dunia. Aku selalu alpa dalam memaksimalkan ramadan. Jika semangatku di awal sangat berkobar, lantas ditengah jalan mengapa memudar? setelahnya, mengapa bisikan setan selalu yang diutamakan? Aku memohon pertolongan Allah Yang Maha Pengampun, atas setiap kelalaian ini. Khawatir selama tiga puluh hari yang berlalu, aku hanya mendapatkan haus dan lapar. Padahal sangat banyak pintu-pintu kebaikan yang Allah berikan.
Ramadan tahun ini mengajarkan ku banyak hal, paling utama memang tentang kematian. Pekan terakhir ramadan, beberapa telah berpulang. Umur tidak menjadi patokan untuk kematian bisa diperkirakan. Jika sewaktu-waktu kematian datang, lantas bekal apa yang sudah aku berikan? Menakutkan rasanya membayangkan saat momen itu terjadi, apa orang-orang yang berkunjung kelak mendoakan atau justru berbahagia kegirangan? Berada dalam lingkar, dimana tubuh kaku dan dingin sedang orang lain tidak sama sekali mendengar, mereka hanya menyaksikan. Akan sangat bahagia, ketika melihat orang-orang yang mengelilingi tengah sedih dan merasa ada kebaikan yang hilang. Bahagia rasanya jika amalan yang kecil bisa membekas dan memberikan kesaksian, "Dahulu semasa hidupnya almarhum/ah adalah sosok yang baik, sosok yang mengajarkan banyak hal, seorang yang santun kepada orang lain, ia yang selalu membantu memudahkan urusan saudarnya", bahagia benar menjadi seorang itu, meninggalkan jejak-jejak kebaikan yang memudahkannya.
Pelajaran lainnya adalah syukur, dalam situasi ini, ketika orang lain banyak yang kehilangan keluarga, kehilangan pekerjaan dan banyak hal. Kita tetap harus bersyukur, ada yang syukurnya hanya sekadar mendapatkan nasi untuk berbuka. Adapula syukurnya yang dapat berkumpul menemui orang tua, pun ada juga yang bersyukur saat keadaan menjadi lebih nikmat dimasa-masa ini. Aku bersyukur dari cara orang menerima ketetapan-Nya dan menyerahkan urusan hidup kepada Rabbnya. Seorang pemulung yang berbahagia bukan lantaran dapat membeli baju hari raya. Belajar kesabaran dari bapak-bapak ojek yang rela panas-panasan bekerja agar bisa menafkahi keluarganya. Selalu luas syukur ku melihat orang-orang yang memandang dunia dengan makna 'cukup'.
Dari setiap amal kebaikan yang telah kita upayakan, berharap agar Allah berkenan menerimanya. Aku memohon kepada Allah subhanahu wa ta'ala semoga Allah memberikan kita kesempatan untuk bisa berjumpa lagi dengan ramadan di tahun depan. Hanya Allah yang mampu berkuasa atas segalanya, aamiin. Mohon dibukakan pintu maaf atas setiap tindak tanduk yang Annisa Habibah perbuat selama ini, baik hutang, janji dan perkataan yang tidak mengenakkan. Semoga engkau ridho memaafkannya.
Selamat Idul Fitri 1442 H
Taqabbalallahu minna wa minkum
Semoga Allah kumpulkan kita dan keluarga kita kelak di syurga-Nya, aamiin.
Jakarta, 1 Syawal 1442
Annisa Habibah
Komentar
Posting Komentar