Langsung ke konten utama

Ibu, bapak dan cerita.

Satu hal yang terkadang sebagian kita lupa meluangkannya. Yaitu waktu, waktu dimana bapak dan ibu bercerita. Apa yang luput dari kita, tidak berarti luput darinya karena usia. Tentang siapa temen-temen kita, cerita yang tanpa sadar spontan kita bagikan. Melekat dalam ingatannya. Hari ini, ketika ibu duduk disamping dan ikut melihat apa yang sedang anaknya lakukan dengan wajah yang tidak asing dilihatnya. Ingatannya membawa kepada banyak pertanyaan-pertanyaan.

Kalau lagi cerita gini, pasti ibu ngabsenin temen-temen anaknya yang sering atau hanya sebatas mampir atau pernah main ke rumah, mulai dari yang smk sampai temen kuliah yang baru kemarin datang kerumah. Baik yang kebanyakan wanita, atau yang sesekali pria. Kalau ada yang ibu mau tanyakan atau ceritakan tapi lupa nama, pasti ciri khasnya yang diinget. Kesan pertama yang ibu lihat atau yang ibu dengar dari cerita anaknya, itulah yang melekat dalam ingatannya. "Iya, itu yg tinggi. Yg pendiem." Dan sampai yang membuat saya tergelak, "Yang kumis. Yg pernah minjem gas". Pertanyaan ibu lebih banyak dibanding anaknya bertanya kepada temannya sendiri.

"Gimana kabarnya (disebut namanya kalo beliau inget) sekarang.", "Jarang kesini lagi.", "Siapa itu, ajak kerumah aja dek"., "Ibunya waktu ambil rapor cerita", "kemarin yang anis kerumahnya dibawain kue, ga main lagi, katanya mau jalan-jalan". Pertanyaan yang kadang jawabannya gampang, sampai pertanyaan yang rasa-rasanya disamaratakan, "Itu sekelas sama anis?", "Dia nilainya juga bagus kan dek?, "oh anis belajar sama dia". "Suruh kesini main". Ibu, dengan berbagai macam pertanyaan.

Berbeda dengan bapak, beliau selalu mendengarkan tanpa banyak bertanya. Namun hanya satu yang begitu melekat dalam ke khawatiran saya. Bapak selalu marah, ketika anak-anaknya, mengundang teman, atau kedatangan teman, namun sebatas diluar pagar. "Dilihatnya juga ga bagus kaya gitu, kita punya rumah ngobrolnya didalem jangan diluar".

Ibu dan bapak.
Terima kasih, sudah banyak mendengarkan.
Semoga kita, sebagai anak.
Tidak lagi merasa jenuh dan mampuh meluangkan waktu untuk mendengarkan cerita baru, atau cerita yang seringnya diulang-ulang.
Betapa bahagianya, saat cerita yang disampaikan diterima dan disambut dengan baik oleh pendengarnya. 

Salam dari ibu dan bapak.


Note.

Kangen sama suasana bareng temen-temen, rindu juga sama kebaikan kalian. Satu kutipan yang bibah suka.

"Mungkin kini jarak yang menjadi pemisah, Kesibukan dan aktivitas masing-masing yang seringnya menjadi kendala untuk sekedar bertukar kabar apalagi berjumpa. Ketahuilah, ada yang lebih penting dibanding sekedar memupuk rasa rindu hanya dengan mengharap perjumpaan semata, yakni do'a yang senantiasa dipanjatkan untuk sahabat pun teman seperjuangan yang kita harapkan semoga Allah jaga mereka dimanapun mereka menempatkan diri. Jika memang bukan di dunia, jika bukan di jalan dan tempat yang lebih Allah ridhai, Semoga kelak Allah kumpulkan lagi kita bersama di Jannah-Nya, ya."

Bontang, East Borneo Selasa, 09 Shafar 1441 H.
-azdinawawi-.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Karena ku punya semua mimpi yang tak semudah itu kau Lenyapkan"

Bismillah,,, Langkah hebat dengan pencapaian yang menyayat ini sungguh begitu meletihkan. Tuhan, bisakah kau mundurkan waktu ku? Agar aku bisa memilih dan memilah bagaimana hasil dari keputusan mu?  Bolehkah ku meminta agar aku berkhayal dan mengatur sesuka ku? Jika kau menjawab itu semua dengan suatu dampratan, tolong buat tamparan itu kian mematikan. Agar aku pun bisa bercermin sejauh mana jiwa ini berjuang, sejauh mana langkah ini terus menerjang jalan yang begitu terjal, agar aku bisa mengakhirinya dalam proses terhormat dengan sebuah tamparan yang mematikan. Kau pun menjawab semuanya Rabb, Kau tampar aku sedemikian dahsyat sampai akhirnya asa ini mulai terkikis, Kau pun dengan tega'nya mengatur seperti apa mau mu, kian hati ini melulu menyalahkan-Mu, tak mempercayai bahwa diri ini mampu terbawa sepeti mau ku sesuai dengan khendak-Mu. Rupanya pemikiran ku terlalu dangkal, angan ku terlalu cetek dan penilaian tentang diri ku pun belum dapat ku mengerti. Sampai akhirnya aku me...

Catatan Rumah Tangga #2

  "Jangan biarkan masalah itu terdengar keluar dari pintu kamar kita. Biarkan dia menemui titik selesainya di dalam saja" Selain sabar dan shalat, kunci selanjutnya yang perlu kau pegang adalah jujur dan percaya. Sama halnya dalam rumah tangga, laki-laki yang kau pilih untuk menjadi imammu itu adalah orang asing yang hadirnya kini dibebani pada seluruh kebaikan atau keburukan istrinya kelak. Orang asing yang padanya kau merasa yakin, ada satu perasaan yang berbeda, entah dideskripsikan seperti apa. Perjalanan ini bukanlah perjalanan yang selalu menjanjikan aspalnya mulus, akan banyak kau temui jalan yang berkelok, tanjakan yang curam, turunan yang perlu banyak perhatian dan pengendalian. Kau harus percaya bahwa atas izin Allah, kau berada bersama dengan orang yang tepat.  Tidak ada kepala yang indah dengan berjuta variasi warna rambut. Hitam atau putih adalah dua pilihan mutlak yang tidak bisa dicederai. Jangan biarkan orang lain berpendapat tentang berbagai warna yang cocok ...

Maret

[ 69/365] Hai aku kecil, apa kabar? aku kecil, pernahkah dulu kita membayangkan akan sampai pada hari ini? Aku masih mengingat mimpi masa kecilku– menjadi dokter, aku rasa itu bukan mimpi anak kecil pada umumnya. Oh iya, aku juga ingat terakhir, belum lama, ketika lulus sekolah kemudian melamar kerja lalu ditanya, "Lima tahun kedepan kamu akan menjadi seperti apa?" Lalu aku jawab dengan penuh semangat tanpa tau lagi, kalau realitanya seperti ini. Kataku, "Aku ingin punya sekolah, mau buka usaha ini dan itu, menulis buku a sampai z dan masih banyak lagi!" Seiring berjalannya waktu dan aku bertumbuh dewasa, mimpi-mimpiku dibentuk sekitar untuk lebih realis dan sadar akan takdirNya. Hai aku kecil, kalau kamu tau aku yang sekarang tidak lebih baik dari beberapa tahun belakangan ini, apa yang akan kamu katakan? Pasti, kamu mau tunjuk-tunjuk sambil bilang, dulu mimpimu banyak, tapi sekarang kok belum ada yang tercapai? Kamu juga pasti marah aku kecil, kalau sudah dewasa g...