Bismillah,
segala puji
bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya.
“Barang
siapa Allah beri petunjuk, ia mendapat petunjuk, dan barang siapa Allah
sesatkan, ia tidak akan mendapatkan penolong dan pemberi petunjuk baginya.”
(Qs. Al-Kahfi:17)
...
Aku takut ego ku mendahului
takdir-Nya.
Karena sesuatu yang baik
tidak akan menjadi baik
sebab caranya salah.
Ada yang berat namun bukan
rindu, melainkan konsisten untuk menulis satu bulan satu tulisan. Saya
khawatir, janji yang tengah saya rangkai untuk diri saya, ternyata justru saya
yang ingkari. Mencari ketenangan bagi saya adalah dengan tidak terhubung pada
makhluk pertemanan siapa pun, tanpa mengotak-ngotakan mana yang dekat atau tak
kenal sekali pun. Dua bulan setelah awal tahun, rupanya seminggu dan sepuluh
hari tanpa interaksi media sosial yang intens, hasilnya, ada beberapa perubahan
yang berdampak pada pemahaman diri, kegiatan serta perasaan. Kepuasan
tersendiri ketika saya berhasil menyelesaikan apa yang menjadi janji saya,
entah yang menguasai ini ego atau murni pilihan saya. Hingga akhirnya sebuah
pencapaian kan, jika sehari hanya membuka handphone paling
lama 4 jam 20 menit, upaya untuk kedepannya semoga bisa hanya dua jam. Sehingga
di sela-sela waktu itu, sepertinya saya lebih banyak memahami apa yang menjadi
kesukaan saya, memahami mana perlakuan yang tidak saya suka, perasaan yang
harusnya saya hentikan, dan berbagai maksud baik dengan cara yang salah
lainnya.
Sepuluh Maret,
tidak ada yang berbeda,
seperti hari pada umumnya, hanya saja, pemberian buku dari seorang yang
kehadirannya selalu jadi bahan pertimbangan untuk bisa 'mengenal baik' dirinya.
Buku dimana halaman pertamanya sudah memberikan saya peringatan, bahwa
siapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkan dan "Barangsiapa
yang Allah kehendaki kebaikan, niscaya akan dipahamkan dalam masalah
agamanya". (HR.Bukhari dan Muslim) Saya takut, jangan-jangan
selama ini saya justru menyia-nyiakan petunjuk yang sudah Allah beri, apa
mungkin, saya tidak bisa melihat bagaimana santunnya orang berilmu ketika
berinteraksi dengan yang lainnya, bagaimana petimbangan dan pilihan kata yang
terucap dari lisan-lisannya, tidak bermudah-mudah melakukan hal yang sia-sia,
jangan-jangan saya tengah dibutakan untuk melihat itu semua. Hingga saya lupa
bagiamana seharusnya berperilaku yang baik. Saya khawatir, perubahan yang
tengah saya upayakan adalah bentuk dari niat lainnya.
Dan saya percaya
menghilang bukan berarti
berhenti memperhatikan, jika saja kau mengenal tiap individu dengan baik maka
kau tak akan mudah menyimpulkan, dirinya masih sama. (Tweet @annisahab
7 Maret) Ada yang harus diupayakan, tetapi bukan tentang wanita. Bukan
tentang nama saya yang juga berartikan wanita, tetapi tentang diri kita, tentang
diri ini, yang semoga selalu bertumbuh, bertumbuh ke arah yang lebih baik lagi
dengan sebaik-baiknya niat. Berubah bukan berarti menjadi berbeda, menjadi
angkuh seketika, mungkin kamunya kurang deket, kan saya rabun.
Maaf,
sudah terlalu angkuh
terlalu kekanakan
terlalu mengandalkan
terlalu otoriter
Terima kasih, sudah
menemani saya bertumbuh sejauh ini
*Maapin juga yak sempet
ngapus kontak tujuh hari di bulan Februari dan sepuluh hari belakangan di bulan
Maret ini:v
-Annisa Habibah-
Komentar
Posting Komentar