Langsung ke konten utama

Di Genapkan-Nya.

Bismillahirrahmanirrahim,

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah.

Tentang esensi bertumbuh,,,
Ahad ini, aku akan bercerita, tentang fase bertumbuh yang digenapkan-Nya.
Perempuan yang tumbuh dengan segala sifat, karakter, dan pengalaman yang baru sedikit.
Dua puluh tahun lalu, hidupnya takan berarti apa-apa sampai Allah sendirilah yang menakdirkan segala sesuatunya dalam kebaikan. Hingga amanah itu datang, hingga jiwa ini dihidupkan, dan kelak, diri ini bertanggung jawab atas nafas yang dititipkan.

Tentang anak perempuannya bapak,,,
Lelaki yang begitu jarang menyatakan dengan gamblang cintanya, tetapi dalam dirinya memiliki kasih sayang dan cinta yang sangat luas. Bapak, menjadi orang pertama yang khawatir saat anak perempuannya pulang larut malam, menjadi laki-laki pertama yang marah saat anaknya sakit, sebab tidak mendengar sarannya untuk berobat. Mama, perempuan yang sangat lembut hatinya, pernah sekali waktu kita berselisih mau, sebab kebaikan mama yang seharusnya dapat ku contoh, perempuan yang selalu membasahi bibirnya dengan untaian doa untuk anak-anaknya. Dua orang terbaik yang selalu berhasil membuat ku nangis, entah sebabnya apa, aku tidak pernah mau kala moment-moment terbaik justru harus bercakap serius kepadanya, dihadapannya aku lemah, aku hanya sosok anak perempuan yang dimanjakannya, aku tidak bisa jauh darinya, aku tidak bisa berkata banyak kala pertanyaan yang timbul dari hati ditanyakannya, cengeng memang. Atas setiap pengorbanan, kasih sayang, cinta, dan ketulusan yang engkau berikan, semoga Allah membalas kebaikannya kepada kalian, aamiin. Terima kasih Pak, Ma. 

Tentang keberanian ku menceritakan mu dihadapan bapak,,,
Untuk memulainya aku harus mempunyai keberanian telebih dahulu, rupanya berbicara tentang lelaki lain dihadapan bapak, membuatku takut, bagaimana tidak, selama ini aku tidak pernah menyebut dan bercerita tentang lelaki seserius ini, yang bapak tau hanya teman laki-laki yang sering ku sebut sebab teman kelas, teman organisasi disekolah, dan teman yang cangkupannya memang teman. Tapi, hari itu, saat ku rasa tepat untuk menyinggung satu nama laki-laki kepada bapak, ia, mengenai ibadah terlama dalam hidup. Dengan sangat hati-hati ku mulai perbicaraan itu, ku mulai dengan target usia ku untuk menikah, dan ternyata, sudah ku tebak jawabannya. Ku rasa bapak sangat takut kehilangan anak perempuan satu-satunya, dengan segala penjabaran dan pendapat beliau. Bisa ku ambil kesimpulan, bahwa aku harus banyak belajar terlebih dahulu, sebab kelak, harus ada amanah yang mampu ku emban, laki-laki yang ku sebut namanya itu tentu mengharapkan jika ia memiliki wanita yang cerdas, yang mampu mendidik anak-anaknya dengan agama yang baik, dengan kecerdasan dan pertumbuhan yang terbaik. 
"Memang akan kau temui sosok manja karena kaya limpahan kasih sayang. Kehadirannya akan selalu dirindukan. Sosok anak kecil yang tak pernah dewasa, padahal selalu mati-matian berusaha mematahkan asumsi tersebut."
Tentang anak terakhir yang tumbuh beranjak dewasa,,,
untuk seluruh kesempatan yang sudah Allah berikan, semoga aku mampu bersyukur dan tidak menyalahinya sebagai bentuk kekufuran, dengan satu tujuan, untuk mendapat ridho dan keberkahan dari-Nya, sampai nanti, saat nafas tidak lagi terhembuskan. Untuk setiap kesalahan yang telah diperbuat, semoga balasan maaf ku dapatkan. Atas segala doa yang tidak mampu dilisankan, semoga dalam sujud panjang tersampaikan. Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Mu, jadikanlah sebaik-baiknya umur ku dalam penjagaan-Mu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Karena ku punya semua mimpi yang tak semudah itu kau Lenyapkan"

Bismillah,,, Langkah hebat dengan pencapaian yang menyayat ini sungguh begitu meletihkan. Tuhan, bisakah kau mundurkan waktu ku? Agar aku bisa memilih dan memilah bagaimana hasil dari keputusan mu?  Bolehkah ku meminta agar aku berkhayal dan mengatur sesuka ku? Jika kau menjawab itu semua dengan suatu dampratan, tolong buat tamparan itu kian mematikan. Agar aku pun bisa bercermin sejauh mana jiwa ini berjuang, sejauh mana langkah ini terus menerjang jalan yang begitu terjal, agar aku bisa mengakhirinya dalam proses terhormat dengan sebuah tamparan yang mematikan. Kau pun menjawab semuanya Rabb, Kau tampar aku sedemikian dahsyat sampai akhirnya asa ini mulai terkikis, Kau pun dengan tega'nya mengatur seperti apa mau mu, kian hati ini melulu menyalahkan-Mu, tak mempercayai bahwa diri ini mampu terbawa sepeti mau ku sesuai dengan khendak-Mu. Rupanya pemikiran ku terlalu dangkal, angan ku terlalu cetek dan penilaian tentang diri ku pun belum dapat ku mengerti. Sampai akhirnya aku me...

Catatan Rumah Tangga #2

  "Jangan biarkan masalah itu terdengar keluar dari pintu kamar kita. Biarkan dia menemui titik selesainya di dalam saja" Selain sabar dan shalat, kunci selanjutnya yang perlu kau pegang adalah jujur dan percaya. Sama halnya dalam rumah tangga, laki-laki yang kau pilih untuk menjadi imammu itu adalah orang asing yang hadirnya kini dibebani pada seluruh kebaikan atau keburukan istrinya kelak. Orang asing yang padanya kau merasa yakin, ada satu perasaan yang berbeda, entah dideskripsikan seperti apa. Perjalanan ini bukanlah perjalanan yang selalu menjanjikan aspalnya mulus, akan banyak kau temui jalan yang berkelok, tanjakan yang curam, turunan yang perlu banyak perhatian dan pengendalian. Kau harus percaya bahwa atas izin Allah, kau berada bersama dengan orang yang tepat.  Tidak ada kepala yang indah dengan berjuta variasi warna rambut. Hitam atau putih adalah dua pilihan mutlak yang tidak bisa dicederai. Jangan biarkan orang lain berpendapat tentang berbagai warna yang cocok ...

Maret

[ 69/365] Hai aku kecil, apa kabar? aku kecil, pernahkah dulu kita membayangkan akan sampai pada hari ini? Aku masih mengingat mimpi masa kecilku– menjadi dokter, aku rasa itu bukan mimpi anak kecil pada umumnya. Oh iya, aku juga ingat terakhir, belum lama, ketika lulus sekolah kemudian melamar kerja lalu ditanya, "Lima tahun kedepan kamu akan menjadi seperti apa?" Lalu aku jawab dengan penuh semangat tanpa tau lagi, kalau realitanya seperti ini. Kataku, "Aku ingin punya sekolah, mau buka usaha ini dan itu, menulis buku a sampai z dan masih banyak lagi!" Seiring berjalannya waktu dan aku bertumbuh dewasa, mimpi-mimpiku dibentuk sekitar untuk lebih realis dan sadar akan takdirNya. Hai aku kecil, kalau kamu tau aku yang sekarang tidak lebih baik dari beberapa tahun belakangan ini, apa yang akan kamu katakan? Pasti, kamu mau tunjuk-tunjuk sambil bilang, dulu mimpimu banyak, tapi sekarang kok belum ada yang tercapai? Kamu juga pasti marah aku kecil, kalau sudah dewasa g...