Langsung ke konten utama

Perjalanan Hijrah



Assalamu’alaykum. Wr. Wb
Alhamdulillah, ketika cinta-Nya masih memberikan kesempatan untuk diri ini menceritakan kembali. Apa yang menganjal dalam hati dan ungkapan yang mendorong diri untuk berbagi. Apa kabar brader and sista, semoga selalu dalam lindungan Allah SWT. Kali ini biarkan diri mebahas “Proses dalam Hijrah”

#1 - Jilbab Pertama.
Saya dulu termasuk siswa SD yang sangat senang sekali melihat rambut indah, panjang terurai nan memesona. Saat itu pula, memang dengar dari cerita ibu bahwa dahulu kakek mengharuskan anak atau cucu perempuannya untuk memiliki rambut panjang. Begitu juga cerita yang disampaikan oleh laki-laki yang sampai saat ini cintanya begitu sejati, ya “Ayah”. Dari cerita tersebut, begitu indah dibayangkan saat saya memiliki rambut panjang. Dulu kecil ternyata asik punya rambut panjang hitam dan suka sekali dibuat gaya macam-macam. Saya menyukai rambut panjang, hitam dan tak kala dengan iklan shampoo di televisi. Sampai suatu ketika saat SD lulus pun saya masih bangga dengan rambut panjang hitam saya ini. Setelahnya, SD akhirnya telah berlalu kehidupan kanak-kanak saya pun saya rasakan bahagianya. Mulailah dengan suasana baru, suasana saat sekolah masuk dijenjang menengah. Ya benar, SMP. Hari itu, hari pertama saya masuk sekolah. Kakak osis pun memerintahkan kepada adik-adik yang baru masuk ini untuk baris sesuai dengan kelompoknya. 

Bertemulah saya dengan satu wanita, saya baris persis dibelakangnya. Entah apa yang mendasari saya untuk berani menyapanya lebih dulu, karena yang saya tau diri ini begitu terpikat melihat wanita tinggi lalu berkerudung. “Ah, aku harus negor dia. Pasti nih dia orangnya baik ramah pokoknya aku harus duduk sama dia” (Batin ku memerintah untuk lekas berkenalan dan mengajaknya untuk duduk bersama).  Singkat cerita, kaka osis memerintahkan untuk menguncir rambutnya sesuai dengan tanggal lahir. Sungguh, saat itu saya tidak suka. Saya tidak ingin rambut ini rusak hanya karena dikuncir-kuncir tidak jelas. Diri ini merasa menolak, sebab tak adil rasanya melihat yang memakai kerudung hanya ditempel pita tanpa harus menahan malu serta menahan rasa sakit dari kunciran yang tidak jelas faedahnnya. Enam bulan berlalu, ternyata kehidupan smp saya menemukan saya kepada teman, suasana dan lingkungan baru. Sampai pada akhirnya, rambut panjang itu saya tanggalkan untuk tidak tergerai sembarangan. Rambut panjang yang dahulunya indah, kini biarkan saya yang menjaganya dalam kerahasiaan. Sebab perintah untuk mengulurkan kainnya hingga kedada sampai pada telinga saya.
Semenjak itu, keadaan berubah rambut panjang yang mungkin dulu saya banggakan tidak ada apa-apanya. Proses itu saya lalui dengan berbagai cerita, namun tak cukup rasanya jika saya paparkan. Karena pada akhirnya:
“Saat kita menyayangi sesuatu kuncinya adalah menjaga, bukan membiarkan”
Jika sampai saat ini saya masih bangga dan membiarkan rambut saya terurai, artiannya saya tidak menyayangi diri saya. Sebab dengan jilbab yang terulur hingga kedada ini memberikan saya penjagaan yang luar biasa. Dengan kerudung ini keterjagaan justru dekat dengan mu, sebab kau dibuatnya terhormat. Yuk sistaaaa,,,, kalo kamu sayang diri kamu kita patuhi perintah Dia. Percaya deh, jilbab tidak membatasi kamu dan tidak menjadikan kamu terbatas. Justru dengan jilbab kita terhindar dari hal-hal yang tak terhormat.


#2 – Ah, sudahlah. Maafkan latar belakang hijrah bocah saya yang lalu.
Kau kira apa perjalanan hijrah saya yang lalu baik-baik saja?| Tidak!!! | Dibalik hijrah saya sekarang, banyak sekali proses dan cerita yang begitu memikat. Apa kau tau apa yang melatar belakangi saya untuk memutuskan berhijrah? Ingin pahala besar? |Tidak!| Ingin kunci syurga? |Bukan!!| Atau karena memang ilmu agama saya sudah banyak?|Bukan bukan, sama sekali bukan itu!|.
Dahulu niat saya berhijrah sungguh tak berfaedah. Saya memutuskan berhijrah, karena alasan sederhana. Yaitu agar bisa bertanya kepada kaka senior saya, ketebak dong siapa? Ya, dia adalah seorang senior laki-laki yang aktiv dalam keorganisasian, jabatannya pun tak main-main serta prestasinya juga tak kalah banyak. Namun ia hanya bisa dijumpai setelah aktiv dirohis, saat itulah saya memutuskan untuk masuk kedalam lingkaran rohis. Terlebih saya melihat anak-anak rohis itu punya banyak acara dan prestasinya unggul-unggul. Pantas rasanya jika guru membela dan menyanjung mereka. Saat itulah niat yang tak berfaedah ini mencoba-coba. *Tolong jangan ditiru ini cerita hijrah dengan alasan yang tidak baik!!! Singkat cerita saya pun diperkenalkan dengan kaka mentor di rohis, saat itu setiap yang rohis sepulang sekolah setelah shalat berjamaah ngebuat satu lingkaran dan disetiap lingkaran diisi sama satu kaka mentor perempuan. Namanya dibuat nyaman, past betahlah.
Ternyata rohis ga cuma gitu gitu aja, baca Qur’an yang emang kudu. Tapi ga sebosen yang kalian bayangin. Dirohis banyak kegiatannya, terutama dimentoringnya sendiri. Sampai-sampai dua tahun itu berjalan cepet sekali. Kaka senior yang dulu awal masuk udah lulus dua tahun silam. Ketika saya naik ke kelas dua doi lulus. Tapi rasanya tuh ya biasa aja, dasar bocah mohon dimaklumin ya rasanya cinta-cintaan pas bocah smp gitu. Tapi saya bukan yang termasuk gampang dan sungkan mengekspresikan sesuatu perasaan sampai doi lulus pun ternyata saya ga pernah macem-macem palingan jegat doi nanya “Ka hari ini jadwal shalat jum’atnnya kelas berapa?” dan rasanya tuhhhhhhhh kaya gitu aja udah gelagapan malu-malu muna gitu. Astagfirullah maapin saya ya ampun. Semoga yang lalu jadi bagian cerita yang bisa intropeksi lagi kedepannya. Tapi terima kasih ka, karena kaka saya nyoba-nyoba sampai betah di rohis sampe sekarang Alhamdulillah. Tapi kaka lulus pun juga ga masalah si, ga ngejadiin saya keluar dari rohis hehehe. Taunya ya udah gitu doang, namnya bocah yaa ampun deh sekali lagi jangan ditiru alas an yang tidak berfaedah ini mohon dimaklumkan ini bocah 6 tahun yang lalu.

#3 – Lentera17_
Menuju baik itu baik
“Jika orang lain melihat mu berbeda. Yakinlah, engkau tidak berbeda di hadapan Allah.”
Aku begitu memaknai sebuah proses. Sebab tanpa proses, maka hasil yang didapat bukanlah hal yang bisa didapat. Menuju mendapatkan hasil membutuhkan sebuah proses. Karenanya, hargailah setiap proses pada setiap yang kita punya. Ketika kita menghargai sebuah proses? Aka hasil yang didapat pun akan menjadi tidak berharga.
Dalam hari-hari yang kita lewati, aka nada satu tujuan yang kita incar. Menjadi lebih bahagia. Menjadi yang lebih baik lagi dari yang sebelumnya. Ya, semua adalah semata untuk menjadi lebih baik lagi. Kamu tahu? Menuju baik itu baik. Lakukanlah semua hal yang baik itu sekarang. Menjadi orang yang baik, adalah mereka yang mengerti kata baik, dan melakukan hal yang baik itu dengan baik. Jadilah yang terbaik dalam hidupmu.
-Panji Ramadhan, dalam buku Menuju baik itu baik-

Nah udah tau kan dear, menuju baik itu baik. Artiannya yuk kita mulai menuju baik, kita hijrah untuk perubahan dan sesuatu yang lebih baik. Megenai alasan yang melatar belakangi perjalanan hijrah saya yang lalu biarkan itu menjadi kesalahan niat. Perlahan, setelah semuanya berjalan tiga empat tahun sampai saat ini niat baik ini mempertemukan saya dengan mereka-mereka yang baik. Dan niat yang awalnya belum baik semoga telah gugur dan berganti dengan niat dijalan-Nya. Semangat terus memperbaiki diri, percayalah orang lain teman-teman mu itu menunggu mu tak hanya untuk berhijrah berkumpul bersama didunia, melainkan untuk berkumpul dan melingkar kembali dalam cinta di Jannah-Nya. Aamiin


Mohon maaf sekali, terdapat banyak kekurangan penyampaian dan salah tafsiran atau sebagai lainnya. Sebab kebenaran datangnya hanya dari Allah SWT. Dear, ingatkan saya dalam kebaikan ya kalau pun memang diri mu ingin menasihati saya. Nasihatilah dalam keadaan sepi, ketika hanya saya dan kamulah. Jangan nasihati saya dikeramaian, sebab jika seperti itu artiannya kau mempermalukan. Semangat terus dalam belajar lebih baik dari hari ke hari. #KeepHamasah!!! #UkhuwahtillJannahp

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Karena ku punya semua mimpi yang tak semudah itu kau Lenyapkan"

Bismillah,,, Langkah hebat dengan pencapaian yang menyayat ini sungguh begitu meletihkan. Tuhan, bisakah kau mundurkan waktu ku? Agar aku bisa memilih dan memilah bagaimana hasil dari keputusan mu?  Bolehkah ku meminta agar aku berkhayal dan mengatur sesuka ku? Jika kau menjawab itu semua dengan suatu dampratan, tolong buat tamparan itu kian mematikan. Agar aku pun bisa bercermin sejauh mana jiwa ini berjuang, sejauh mana langkah ini terus menerjang jalan yang begitu terjal, agar aku bisa mengakhirinya dalam proses terhormat dengan sebuah tamparan yang mematikan. Kau pun menjawab semuanya Rabb, Kau tampar aku sedemikian dahsyat sampai akhirnya asa ini mulai terkikis, Kau pun dengan tega'nya mengatur seperti apa mau mu, kian hati ini melulu menyalahkan-Mu, tak mempercayai bahwa diri ini mampu terbawa sepeti mau ku sesuai dengan khendak-Mu. Rupanya pemikiran ku terlalu dangkal, angan ku terlalu cetek dan penilaian tentang diri ku pun belum dapat ku mengerti. Sampai akhirnya aku me...

Catatan Rumah Tangga #2

  "Jangan biarkan masalah itu terdengar keluar dari pintu kamar kita. Biarkan dia menemui titik selesainya di dalam saja" Selain sabar dan shalat, kunci selanjutnya yang perlu kau pegang adalah jujur dan percaya. Sama halnya dalam rumah tangga, laki-laki yang kau pilih untuk menjadi imammu itu adalah orang asing yang hadirnya kini dibebani pada seluruh kebaikan atau keburukan istrinya kelak. Orang asing yang padanya kau merasa yakin, ada satu perasaan yang berbeda, entah dideskripsikan seperti apa. Perjalanan ini bukanlah perjalanan yang selalu menjanjikan aspalnya mulus, akan banyak kau temui jalan yang berkelok, tanjakan yang curam, turunan yang perlu banyak perhatian dan pengendalian. Kau harus percaya bahwa atas izin Allah, kau berada bersama dengan orang yang tepat.  Tidak ada kepala yang indah dengan berjuta variasi warna rambut. Hitam atau putih adalah dua pilihan mutlak yang tidak bisa dicederai. Jangan biarkan orang lain berpendapat tentang berbagai warna yang cocok ...

Maret

[ 69/365] Hai aku kecil, apa kabar? aku kecil, pernahkah dulu kita membayangkan akan sampai pada hari ini? Aku masih mengingat mimpi masa kecilku– menjadi dokter, aku rasa itu bukan mimpi anak kecil pada umumnya. Oh iya, aku juga ingat terakhir, belum lama, ketika lulus sekolah kemudian melamar kerja lalu ditanya, "Lima tahun kedepan kamu akan menjadi seperti apa?" Lalu aku jawab dengan penuh semangat tanpa tau lagi, kalau realitanya seperti ini. Kataku, "Aku ingin punya sekolah, mau buka usaha ini dan itu, menulis buku a sampai z dan masih banyak lagi!" Seiring berjalannya waktu dan aku bertumbuh dewasa, mimpi-mimpiku dibentuk sekitar untuk lebih realis dan sadar akan takdirNya. Hai aku kecil, kalau kamu tau aku yang sekarang tidak lebih baik dari beberapa tahun belakangan ini, apa yang akan kamu katakan? Pasti, kamu mau tunjuk-tunjuk sambil bilang, dulu mimpimu banyak, tapi sekarang kok belum ada yang tercapai? Kamu juga pasti marah aku kecil, kalau sudah dewasa g...