Langsung ke konten utama

Jakarta Tercinte

Bismillahirrahmanirrahim,,,

(Src : pinterest.com/kumeli/batavia-jakarta)


                Jakarta, tempat pertama nafas ku menghirup dunia luar yang tidak ku rasakan sebelumnya dari rahim ibu ku. Rasa yang berbeda, dimana tempat ini menjadi saksi nyata yang sampai saat ini masih memberikan ku ruang untuk tumbuh. Yang aku tau semasa kecil ku dulu, Jakarta hanya meliputi luas daerah antara jarak rumah ku dengan rumah teman sebelah ku.  Sampai-sampai ayah mengkhawatirkan ku, memberikan ku penjagaan yang ketat agar aku tidak tersesat. Ayah dengan penjagaan kepada buah hatinya selalu mengingatkan, “Bahwa untuk saat ini Jakarta terlalu bahaya untuk putri Ayah. Jadi selama kau balita maupun belia, kau harus tetap dalam penjagaan Ayah”.  Aku kira Jakarta begitu ramah, seramah ayah kepada keluarganya. Nyatanya, benar kata Ayah. Kelak jika umur ku tak belia lagi, Jakarta justru akan menjadi kota yang teramat keras hadirnya.

                Jakarta, tetap sejatinya aku tumbuh dan menaruh asa di kota ini. Sejarah memberikan gambaran bahwa Jakarta sebelumnya adalah kota indah nan didambakan. Kesederhanaannya dulu memberikan warna kebahagiaan tersendiri. Keasriannya selalu ingin dipuja dan dimanja. Namun kini, bukan ku menentang peradaban, bukan ku melawan kemajuan, atau pun menolak perkembangan. Aku hanya bernostalgia, mengenai Jakarta yang begitu indah semasa remajanya Ayah. Jakarta hingga kini, begitu menjadi kota metropolitan yang adidaya. Kekuasaan dimana-mana, kerdilnya yang lemah menjadi sejata, dan juga kepenatan sebab desak kemacetan.   Jakarta tak salah, ia tak meminta orang-orang untuk datang bermukim kepelukannya. Tak meminta pula peningkatan polusi sebab volume kendaraan yang meninggi. Jakarta hanya membuka mata, menerima setiap koreksian dan masukan agar menjadi lebih tertata. Sehingga pada dasarnya, Ibu kota ku ini, tempat kelahiran ku tercinta ini begitu memesona sehingga membuat orang lain menaruh asa dan nasib disini.

                Jakarta yang sederhana dan asri dulu, telah berubah sejak keterlibatan ku untuk andil dalam pemilu. Ya, benar. Aku tak lagi balita mau pun belia, umur ku terus tumbuh sampai kini membawa ku pada usia remaja. Untuk pertama dan perdana, aku harus memberikan suara agar ada perubahan untuk pemimpin baru di Jakarta. Baru pertama, namun ku sudah merasakan euforia yang berbeda. Ini kah Jakarta? Dimana tak ku temui lagi keramahan dari orang-orang yang ‘membawa’ politik didalamnya. Ini kah Jakarta? Yang dulu sederhana kini menjadi sangat begitu rumit dari mereka yang beradu dengan kolot dan ngotot. Masihkah terdapat kesederhanaan dan keramahan dari Jakarta? Ilmu ku tak banyak, pengetahuan ku pun masih terbilang dangkal. Mungkin itu alasan pembeda, mengapa antara aku dengan “ia” yang dengan yakin dan mengebu-gebu menyuarakan dengan maksud berbeda. Kecerdasannya membawa ia untuk membenarkan apa yang ia pilih. Lirih rasanya, sebab ilmu ku tak banyak. Aku tak ingin karena perdebatan, lisan ku melukai orang banyak. Sebab aku masih belajar, jadi sepatutnya aku memperlakukan orang lain seperti apa yang ingin aku dapat dari perlakuan orang lain. Selisih paham itu wajar, perbedaan itu lumrah. Namun mengapa begitu banyak orang-orang yang justru memperdebatkan keduanya. Duhai saudara ku, aku mungkin bukan orang yang begitu nasionalis. Namun setidaknya akan ada era kita yang diamanahi tanggung jawab untuk menjaga daerah dan bangsanya sendiri.

                Teruntuk pemimpin baru nantinya, kami titipkan Jakarta yang sederhana dan asri ini kepada mu. Kami percayai tanggung jawab kota ini ditangan mu. Jaga kota ku ini, jaga tempat kelahiran ku ini. Agar kelak kesederhanaan dan keasriannya akan terasa tak hanya sampai pada diriku, melainkan pada anak cucu dan cicit ku. Jaga Jakarta dengan nilai asli dari Jakarta itu sendiri, yang ramah, yang sederhana lagi memesona. Aah, begitu indah Jakarta ku.

           Teman-teman seangkatan ku, remaja adalah sasaran pemilih pemula. Menurut ku, pengetahuan dan kecerdasaan itu akan melahirkan pola pikir yang bijak untuk menentukan siapa pilihan terbaik dari hak pilih mu. Jadi tentukan hak pilih mu segera mungkin, jangan males ya.

Dari cicit Jakarta, yang menaruh asa pada pemimpin baru di Ibu Kota tercinta.
Annisa Habibah


Ps : Mohon maaf tersinggung rasa dalam bahasa, tercipta luka dalam tutur kata. Saya mencintai Ibu Kota saya, merindukan kesederhanaan Jakarta yang tidak didapat dari fase politik yang gencar-gencarnya saat ini. Tentang siapa yang saya pilih, selebihnya itu menjadi hak pilih saya. Dan tentunya menjadi saksi dan semoga menjadi pemberat amal kebaikan saya. Saya menulis tulisan ini bukan lantaran saya berjiwa nasionalis atau sastrawan yang ahli dalam bidang politik, saya menulis tulisan ini sebagai pengingat dan peringatan untuk saya sendiri. Terlebih saya masih banyak kurangnya, masih jauh ilmunya, dan masih ingin belajar. Untuk itu mohon maaf jika ada salah yang sebesar-besarnya. Dan sudi kiranya untuk memberikan saya ilmu pengetahuan dan pemahaman. Salam cinta untuk JakartaJ Jangan lupa ya berikan hak suara anda^^

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Karena ku punya semua mimpi yang tak semudah itu kau Lenyapkan"

Bismillah,,, Langkah hebat dengan pencapaian yang menyayat ini sungguh begitu meletihkan. Tuhan, bisakah kau mundurkan waktu ku? Agar aku bisa memilih dan memilah bagaimana hasil dari keputusan mu?  Bolehkah ku meminta agar aku berkhayal dan mengatur sesuka ku? Jika kau menjawab itu semua dengan suatu dampratan, tolong buat tamparan itu kian mematikan. Agar aku pun bisa bercermin sejauh mana jiwa ini berjuang, sejauh mana langkah ini terus menerjang jalan yang begitu terjal, agar aku bisa mengakhirinya dalam proses terhormat dengan sebuah tamparan yang mematikan. Kau pun menjawab semuanya Rabb, Kau tampar aku sedemikian dahsyat sampai akhirnya asa ini mulai terkikis, Kau pun dengan tega'nya mengatur seperti apa mau mu, kian hati ini melulu menyalahkan-Mu, tak mempercayai bahwa diri ini mampu terbawa sepeti mau ku sesuai dengan khendak-Mu. Rupanya pemikiran ku terlalu dangkal, angan ku terlalu cetek dan penilaian tentang diri ku pun belum dapat ku mengerti. Sampai akhirnya aku me...

Catatan Rumah Tangga #2

  "Jangan biarkan masalah itu terdengar keluar dari pintu kamar kita. Biarkan dia menemui titik selesainya di dalam saja" Selain sabar dan shalat, kunci selanjutnya yang perlu kau pegang adalah jujur dan percaya. Sama halnya dalam rumah tangga, laki-laki yang kau pilih untuk menjadi imammu itu adalah orang asing yang hadirnya kini dibebani pada seluruh kebaikan atau keburukan istrinya kelak. Orang asing yang padanya kau merasa yakin, ada satu perasaan yang berbeda, entah dideskripsikan seperti apa. Perjalanan ini bukanlah perjalanan yang selalu menjanjikan aspalnya mulus, akan banyak kau temui jalan yang berkelok, tanjakan yang curam, turunan yang perlu banyak perhatian dan pengendalian. Kau harus percaya bahwa atas izin Allah, kau berada bersama dengan orang yang tepat.  Tidak ada kepala yang indah dengan berjuta variasi warna rambut. Hitam atau putih adalah dua pilihan mutlak yang tidak bisa dicederai. Jangan biarkan orang lain berpendapat tentang berbagai warna yang cocok ...

Maret

[ 69/365] Hai aku kecil, apa kabar? aku kecil, pernahkah dulu kita membayangkan akan sampai pada hari ini? Aku masih mengingat mimpi masa kecilku– menjadi dokter, aku rasa itu bukan mimpi anak kecil pada umumnya. Oh iya, aku juga ingat terakhir, belum lama, ketika lulus sekolah kemudian melamar kerja lalu ditanya, "Lima tahun kedepan kamu akan menjadi seperti apa?" Lalu aku jawab dengan penuh semangat tanpa tau lagi, kalau realitanya seperti ini. Kataku, "Aku ingin punya sekolah, mau buka usaha ini dan itu, menulis buku a sampai z dan masih banyak lagi!" Seiring berjalannya waktu dan aku bertumbuh dewasa, mimpi-mimpiku dibentuk sekitar untuk lebih realis dan sadar akan takdirNya. Hai aku kecil, kalau kamu tau aku yang sekarang tidak lebih baik dari beberapa tahun belakangan ini, apa yang akan kamu katakan? Pasti, kamu mau tunjuk-tunjuk sambil bilang, dulu mimpimu banyak, tapi sekarang kok belum ada yang tercapai? Kamu juga pasti marah aku kecil, kalau sudah dewasa g...