"19"
Tepat hari itu, ditanggal 19 April 2016. Ya, aku mulai menyukai tanggal 19, karena perhitungan ku tepat. Akan terselenggara impian dan tujuan dalam waktu hitungan kurang dari sembilan belas hari. Impian ini begitu hebat, setelah sekian banyak hantaman yang menampar semua keinginan ku, tepat sebulan sebelum impian ku tertanggal di tanggal tujuh. Tepat sebulan sebelum hari H, seseorang menghantam ku lebih dari sekian ratus pentalan yang begitu dahsyat dan aku terpuruk olehnya. Adakah yang lebih parah, setelah sekian janji yang diikrarkan untuk memberikan begitu peluang besar, namun tertanggal 7 April 2016, semua janji perlahan ia ingkari. "Nak, maaf. Maaf kami belum bisa menjadi penolong untuk kalian. Setelah sekian banyak perhitungan dan pengeluaran yang telah kami keluarkan." Dahsyat bukan, setelah semua wejangan yang dikasih, setelah semua materai tertera dan tertanda tangani. Tamparan mana lagi yang lebih parah, wadah yang mana lagi yang bisa menampung perihnya tamparan ini. Asa yang mana lagi yang harus terus menerus ia patahkan. Tidak. Impian ku harus terus terwujud, entah akan seperti apa, dan sepayah apa aku memperjuangkannya.
"Setelah sekian banyak janji, namun terlalu mudah untuk diingkari"
Hari ku terasa kian harus dibangun dengan jerih kepayahan, terhitung sejak itu. Aku bukanlah seorang yang menjadi diri ku. Ya, aku tak lagi mengenal jadwal tidur ku yang terlelap sore hari. Aku kini hanya tau, dinginnya udara malam, heningnya malam hari yang tiap kali sealu dijadikan momok untuk sesuatu yang dikatakan "Bebas" ku temui dunia bebas, dunia mereka yang harus keluar malam dan berusaha mencari uang. Sulit rasanya, melawan kantuk untuk beberapa uang yang menurut ku tak sepadan. Entah, iba rasanya melihat mereka-mereka yang harus terlelap kecapekan. Regia, Nur, Noni. Terima Kasih sudah selalu menjadi pelindung untuk sesama kaum.
"19 Hari"
Hari demi hari selalu banyak cerita, note pun sudah terlampau banyak untuk selalu ku isi dan teruskan. Rapat, debat, cekcok, dan ocehan payah yang sejujurnya justru membuat kian hari kian melelahkan. Namun lagi-lagi selang dalam menjalankan hari untuk menuju hari h terhambat dan terhantam kembali. Lagi-lagi harus tiap waktu memerangi, memerangi sebuah perdebatan yang entahlah seolah-olah justru menggugurkan segala puing-puing asa yang berusaha untuk pulih. "Maaf Nak, pensi kalian tidak bisa terlaksana di tanggal TUJUH MEI" Luka yang timbul, kini ternganga kembali. Tercengang, sulit mempercayai keadaan yang kian terlalu jahat untuk menghantam seorang yang telah kepayahan. Seolah-olah semua keadaan terlihat baik dengan satu ungkapan "M.A.A.F"
"M.A.A.F"
Untuk apa ucapan maaf, apabila hanya menghadirkan luka dan merobohkan setiap kali asa untuk ditinggikan. Terhenti sejak itu, aku merasa bahwa Tuhan telah salah memilih aku untuk berhadapan dengan mereka. Tak adil rasanya, tiap kali asa yang ku rakit namun lagi-lagi harus dihantam dengan lisan yang menyakitkan. Semuanya telah ku beri penilaiian tersendiri, tentang siapapun mereka, tentang seperti apa mereka, tentang bagaimana penilaian ku terhadap teman yang selalu ada ketika aku runtuh. Telah ku baut penilaian ku sendiri, penilaian atas diri ku dan juga orang lain. Aku bodoh! Mungkin benar. Aku meminta untuk terlaksana pula impianku. Namun nyatanya sampai di hari h pun aku gagal untuk menyelenggarakannya.
# 07 MEI 2016 #
"Kita hanya akan tau kejadian hari ini, apabila kita terus bergerak berjalan untuk kedepannya"
Tepat. Hari itu telah menyongsong hari dimana seharusnya impian dan tujuan ku terlaksana. Namun rupanya, perang batin dan kekalahan memang harus menakdirkan bahwa aku yang ditumbangkan. Aku kalah. Aku tak mapu melawan perang sengit yang memang tak bisa ku terima dan mengerti secara dewasa. Entahlah, kekalahan untuk sebelumnya memang sudah ku ketahui. Telah ada firasat bahwa memang kekalahan itu melanda sampai tiba firasat ini berkata
"Ras, pensi kita ga jadi ditanggal tujuh. Karena menurut gua, bakal ada yang meninggal. Gua takut orang yang disekitar gua meninggal. Gua takut orang tua gua meninggal Ras"
"Semoga bukan gua Bah. Istigfar Bah istigfar"
Ya, Allah punya rencana yang jauh tak terduga. Entah memang ada kekhawatiran dan rasa takut yang selalu menghantui ku untuk berpikiran seperti itu, sampai tiba waktu yang membuat ku terlambat dan menyesali setiap keadaannya kini.
"Hati hati melewatkan orang baik, karena jumlah mereka sedikit-Unknw"
-REVI KUSUMA-
Om. Temen PKL yang tau jerih payah gua revisi proposal berkali-kali. Temen pkl gua yang selalu negor gua tiap kali gua izin buat minta acc proposal kesekolah. "NGAPAIN SI LU BAH, IZIN MULU". Kakak yang udah baik buat ngarahin semuanya, temen yang ngebantu gua buat ngumpulin dana 10 Juta. Rev, makasih. Makasih banyak untuk setiap arahan, petunjuk dan nasehat buat gua. Rev, Januari, Februari bahkan sampai Maret lu tau izinnya gua, pusingnya gua, bahkan ga moodnya gua kalo tentang pensi. Rev, terima kasih. Tapi bukan ini yang gua mau. Bukan ini yang gua mau ditanggal tujuh mei. Bukan ini REV!! Bukan ini yang gua mau buat terjadi di tanggal 7 Mei. Bukan elu rev, bukan elu yang harus gua saksiin. Tapi yang gua mau, gua yang harus disaksiin didepan lu. Rev, gua jadi temen yang udah ingkar sama lu. Tapi lu selalu baik Rev, lu selalu baik sama gua. Lu ngertiin gua banget, gua ga tau rev. Tapi bukan itu yang gua mau buat terjadi di tanggal 7 Mei. Kenapa Rev, kenapa ketika gua jengkuk untuk yang pertama justru gua juga yang harus nyaksiin dan denger kabar gak enak langsung dari keluarga lu Rev. Lu tau Rev, proses gua dari proposal, perizinan pkl, sampai dana untuk pensi osis gua. Lu tau semuannya Rev. Makasih banyaaaakkkk untuk setiap arahan dan pengertiannya Rev. Tertanggal 7 Mei 2016. Bukan pensi yang terlaksana, tetapi Allah lebih sayang dengan orang baik. Dan Surga pun kedatangan malaikat baru-Anjani. Iya, kebaikan lu luar biasa Om. Makasih dan maaf yang sebear-besarnya. Maafin gua ya Om.
#12 MEI 2016#
Kamis, 12 MEI 2016. Tiba sudah, terlaksananya impian dan bentuk perjuangan kami. Ya, apresiasi seni yang kami impikan terselenggara di tanggal tersebut. Entah harus dipercepat atau ingin diperlambat. Yang jelas semua ungkapan mungkin sudah tak dapat dijabarkan. Alhamdulillah, bahagia, capek, sedih, terharu, puas, duka semua menjadi suatu bagian cerita yang baru ku sadari kini.
Terima Kasih Bu, terima kasih. Terima Kasih sudah mengajarkan banyak hal yang justru baru bisa diterima apabila sesuatu sudah terjadi. Terima Kasih telah membuat mental kami terkhusus saya lebih ter'asa, maaf atas setiap tindakan yang diiringi dengan keegoisan. Maaf untuk setiap air mata perwujudtan permohonan agar terkabul setiap impian. Maaf untuk lisan yang sudah melukai, penilaian yang sudah tertuliskang. Mohon maaf atas tindakan yang belum bisa terpikir secara dewasa.
Terima Kasih Mas, terima kasih telah menjadi teman yang melontarkan kata-kata yang kurang mengenakan, terima kasih atas setiap kebodohan yang mengarah agar saya harus lebih termotivasi. Terima Kasih telah mengajarkan saya arti teman yang sejatinya. Tak perlu mereka yang hanya terlihat membantu namun sejatinya membebankan. Cukup mereka yang menjelekan namun sejatinya ada pelajaran untuk bisa dipetik, yaitu harus lebih baik.
Terima Kasih.
Saya pribadi mohon maaf atas semua kesalahan, tindakan, lisan yang melukai dan semua kesalahan yang sudah saya lakukan sejauh ini.
"HATI-HATI MELEWATKAN ORANG BAIK. KARENA JUMLAH MEREKA SEDIKIT"
Annisa Habibah.
Tepat hari itu, ditanggal 19 April 2016. Ya, aku mulai menyukai tanggal 19, karena perhitungan ku tepat. Akan terselenggara impian dan tujuan dalam waktu hitungan kurang dari sembilan belas hari. Impian ini begitu hebat, setelah sekian banyak hantaman yang menampar semua keinginan ku, tepat sebulan sebelum impian ku tertanggal di tanggal tujuh. Tepat sebulan sebelum hari H, seseorang menghantam ku lebih dari sekian ratus pentalan yang begitu dahsyat dan aku terpuruk olehnya. Adakah yang lebih parah, setelah sekian janji yang diikrarkan untuk memberikan begitu peluang besar, namun tertanggal 7 April 2016, semua janji perlahan ia ingkari. "Nak, maaf. Maaf kami belum bisa menjadi penolong untuk kalian. Setelah sekian banyak perhitungan dan pengeluaran yang telah kami keluarkan." Dahsyat bukan, setelah semua wejangan yang dikasih, setelah semua materai tertera dan tertanda tangani. Tamparan mana lagi yang lebih parah, wadah yang mana lagi yang bisa menampung perihnya tamparan ini. Asa yang mana lagi yang harus terus menerus ia patahkan. Tidak. Impian ku harus terus terwujud, entah akan seperti apa, dan sepayah apa aku memperjuangkannya.
"Setelah sekian banyak janji, namun terlalu mudah untuk diingkari"
Hari ku terasa kian harus dibangun dengan jerih kepayahan, terhitung sejak itu. Aku bukanlah seorang yang menjadi diri ku. Ya, aku tak lagi mengenal jadwal tidur ku yang terlelap sore hari. Aku kini hanya tau, dinginnya udara malam, heningnya malam hari yang tiap kali sealu dijadikan momok untuk sesuatu yang dikatakan "Bebas" ku temui dunia bebas, dunia mereka yang harus keluar malam dan berusaha mencari uang. Sulit rasanya, melawan kantuk untuk beberapa uang yang menurut ku tak sepadan. Entah, iba rasanya melihat mereka-mereka yang harus terlelap kecapekan. Regia, Nur, Noni. Terima Kasih sudah selalu menjadi pelindung untuk sesama kaum.
"19 Hari"
Hari demi hari selalu banyak cerita, note pun sudah terlampau banyak untuk selalu ku isi dan teruskan. Rapat, debat, cekcok, dan ocehan payah yang sejujurnya justru membuat kian hari kian melelahkan. Namun lagi-lagi selang dalam menjalankan hari untuk menuju hari h terhambat dan terhantam kembali. Lagi-lagi harus tiap waktu memerangi, memerangi sebuah perdebatan yang entahlah seolah-olah justru menggugurkan segala puing-puing asa yang berusaha untuk pulih. "Maaf Nak, pensi kalian tidak bisa terlaksana di tanggal TUJUH MEI" Luka yang timbul, kini ternganga kembali. Tercengang, sulit mempercayai keadaan yang kian terlalu jahat untuk menghantam seorang yang telah kepayahan. Seolah-olah semua keadaan terlihat baik dengan satu ungkapan "M.A.A.F"
"M.A.A.F"
Untuk apa ucapan maaf, apabila hanya menghadirkan luka dan merobohkan setiap kali asa untuk ditinggikan. Terhenti sejak itu, aku merasa bahwa Tuhan telah salah memilih aku untuk berhadapan dengan mereka. Tak adil rasanya, tiap kali asa yang ku rakit namun lagi-lagi harus dihantam dengan lisan yang menyakitkan. Semuanya telah ku beri penilaiian tersendiri, tentang siapapun mereka, tentang seperti apa mereka, tentang bagaimana penilaian ku terhadap teman yang selalu ada ketika aku runtuh. Telah ku baut penilaian ku sendiri, penilaian atas diri ku dan juga orang lain. Aku bodoh! Mungkin benar. Aku meminta untuk terlaksana pula impianku. Namun nyatanya sampai di hari h pun aku gagal untuk menyelenggarakannya.
# 07 MEI 2016 #
"Kita hanya akan tau kejadian hari ini, apabila kita terus bergerak berjalan untuk kedepannya"
Tepat. Hari itu telah menyongsong hari dimana seharusnya impian dan tujuan ku terlaksana. Namun rupanya, perang batin dan kekalahan memang harus menakdirkan bahwa aku yang ditumbangkan. Aku kalah. Aku tak mapu melawan perang sengit yang memang tak bisa ku terima dan mengerti secara dewasa. Entahlah, kekalahan untuk sebelumnya memang sudah ku ketahui. Telah ada firasat bahwa memang kekalahan itu melanda sampai tiba firasat ini berkata
"Ras, pensi kita ga jadi ditanggal tujuh. Karena menurut gua, bakal ada yang meninggal. Gua takut orang yang disekitar gua meninggal. Gua takut orang tua gua meninggal Ras"
"Semoga bukan gua Bah. Istigfar Bah istigfar"
Ya, Allah punya rencana yang jauh tak terduga. Entah memang ada kekhawatiran dan rasa takut yang selalu menghantui ku untuk berpikiran seperti itu, sampai tiba waktu yang membuat ku terlambat dan menyesali setiap keadaannya kini.
"Hati hati melewatkan orang baik, karena jumlah mereka sedikit-Unknw"
-REVI KUSUMA-
Om. Temen PKL yang tau jerih payah gua revisi proposal berkali-kali. Temen pkl gua yang selalu negor gua tiap kali gua izin buat minta acc proposal kesekolah. "NGAPAIN SI LU BAH, IZIN MULU". Kakak yang udah baik buat ngarahin semuanya, temen yang ngebantu gua buat ngumpulin dana 10 Juta. Rev, makasih. Makasih banyak untuk setiap arahan, petunjuk dan nasehat buat gua. Rev, Januari, Februari bahkan sampai Maret lu tau izinnya gua, pusingnya gua, bahkan ga moodnya gua kalo tentang pensi. Rev, terima kasih. Tapi bukan ini yang gua mau. Bukan ini yang gua mau ditanggal tujuh mei. Bukan ini REV!! Bukan ini yang gua mau buat terjadi di tanggal 7 Mei. Bukan elu rev, bukan elu yang harus gua saksiin. Tapi yang gua mau, gua yang harus disaksiin didepan lu. Rev, gua jadi temen yang udah ingkar sama lu. Tapi lu selalu baik Rev, lu selalu baik sama gua. Lu ngertiin gua banget, gua ga tau rev. Tapi bukan itu yang gua mau buat terjadi di tanggal 7 Mei. Kenapa Rev, kenapa ketika gua jengkuk untuk yang pertama justru gua juga yang harus nyaksiin dan denger kabar gak enak langsung dari keluarga lu Rev. Lu tau Rev, proses gua dari proposal, perizinan pkl, sampai dana untuk pensi osis gua. Lu tau semuannya Rev. Makasih banyaaaakkkk untuk setiap arahan dan pengertiannya Rev. Tertanggal 7 Mei 2016. Bukan pensi yang terlaksana, tetapi Allah lebih sayang dengan orang baik. Dan Surga pun kedatangan malaikat baru-Anjani. Iya, kebaikan lu luar biasa Om. Makasih dan maaf yang sebear-besarnya. Maafin gua ya Om.
#12 MEI 2016#
Kamis, 12 MEI 2016. Tiba sudah, terlaksananya impian dan bentuk perjuangan kami. Ya, apresiasi seni yang kami impikan terselenggara di tanggal tersebut. Entah harus dipercepat atau ingin diperlambat. Yang jelas semua ungkapan mungkin sudah tak dapat dijabarkan. Alhamdulillah, bahagia, capek, sedih, terharu, puas, duka semua menjadi suatu bagian cerita yang baru ku sadari kini.
Terima Kasih Bu, terima kasih. Terima Kasih sudah mengajarkan banyak hal yang justru baru bisa diterima apabila sesuatu sudah terjadi. Terima Kasih telah membuat mental kami terkhusus saya lebih ter'asa, maaf atas setiap tindakan yang diiringi dengan keegoisan. Maaf untuk setiap air mata perwujudtan permohonan agar terkabul setiap impian. Maaf untuk lisan yang sudah melukai, penilaian yang sudah tertuliskang. Mohon maaf atas tindakan yang belum bisa terpikir secara dewasa.
Terima Kasih Mas, terima kasih telah menjadi teman yang melontarkan kata-kata yang kurang mengenakan, terima kasih atas setiap kebodohan yang mengarah agar saya harus lebih termotivasi. Terima Kasih telah mengajarkan saya arti teman yang sejatinya. Tak perlu mereka yang hanya terlihat membantu namun sejatinya membebankan. Cukup mereka yang menjelekan namun sejatinya ada pelajaran untuk bisa dipetik, yaitu harus lebih baik.
Terima Kasih.
Saya pribadi mohon maaf atas semua kesalahan, tindakan, lisan yang melukai dan semua kesalahan yang sudah saya lakukan sejauh ini.
"HATI-HATI MELEWATKAN ORANG BAIK. KARENA JUMLAH MEREKA SEDIKIT"
Annisa Habibah.

Komentar
Posting Komentar