Ketika senior tak lagi ada
Kringg.... kring... kring. Bunyi alarm itu menandakan kehidupan di dunia segera dimulai. Malam telah usai menjalankan tugasnya, mentari kini menampakkan kehangatannya. Aku mengambil jam alarm yang ada di meja samping tempat tidur ku.Hari ini merupakan hari pertama aku menjadi siswi SMP, setelah perjalanan 6 tahun yang menyenangkan. Perasaan ku teramat bahagia, karena aku akan menjadi seorang remaja yang lebih besar lagi. Aku pun bergegas mandi dan berpakaian, lalu ku temui keluarga ku yang sedang berkumpul di meja makan.
Aku: Pagi semua.. Keluaga ku pun mejawab: pagi juga, cie yang hari ini jadi anak SMP (sahut kakak cowok ku)
Aku: iya dong, emng kakak doang yg smp!
Setelah jam menunjukan pukul 06.30 aku segera berangkat sekolah, aku berangkat dengan teman SD ku bernama Lala. Sesampainya di sekolah, kami berpisah karena kelas Lala di 7.7 sedangkan aku di 7.4.
Hari pertama, dua orang kakak kelas masuk ke kelas ku. Dia bernama kak Fahmi dan Kak Linda. Mereka merupakan kakak pembimbing kami selama Mos. Awal permulaan semua terasa canggung, begitu juga dengan ku. Aku tak mengenal satu pun seorang yang ada di kelas ini. Sampai ketika aku memberanikan diri untuk berkenalan dengan sosok wanita sebaya dengan ku, berkerudung dan teramat manis rupannya. Dia bernama Nirmala, akhirnya kami pun menjadi teman sebangku. Kini suasana mencair, karena Kak Fahmi mulai bercanda dan berkenalan dengan kami. Tapi entah mengapa aku begitu bosan dengan semuanya. Bel istirahat pun berbunyi, ku bereskan buku dan alat-alat tulis lainnya yang ada di meja ku. Aku mendengar teman ku bergosip tentang kak Fahmi itu. Mereka sepertinya tertarik oleh sosok kakak kelas itu, dalam hati ku, kak Fahmi biasa saja, mereka yang terlalu lebay kepada sosok lelaki itu. Aku cepat-cepat bergegas keluar kelas, karena aku tak mau terlalu lama mendengar riyuhan teman-teman ku itu. Ku temui Lala dikelasnya, ku ceritakan semua kejadian dikelas ku, begitu pun sebaliknya dengan Lala. Cerita ku pun terpotong, karena bel masuk berbunyi. Lagi-lagi kakak kelas itu, rasanya aku pengen sekali hari ini cepat-cepat berakhir, entah karena teman-teman ku yang begitu atau kakak kelas yang dikagumi banyak teman wanita ku. Aku mencoba tenang, aku mendengarkan materi yang disampaikan kak Linda. Rupanya tak terlalu membosankan, karena materinya bermanfaat. Karena beberapa menit lagi pelajaran hari ini usai. Kak Fahmi dan kak Linda memberikan pr untuk kami. Mereka menyuruh kami untuk membawa tumbuhan lidah mertua dan rambutnya harus dikunci tiga. "Aduh, hal ngebosenin apa lagi yang bakal terjadi besok". (Sahut ku dalam hati).
Kringgg.... kringg.. krinngg Akhirnya bel pulang pun berbunyi.
*Keesokan harinya
karena kami disuruh mebawa tumbuhan dan berdandan rambut yang dikuncir tiga. Aku dan Lala pun tidak berangkat bersama, kami berangkat masing-masing.
Disekolah, aku pun langsung naik ke kelas. Namun, ketika aku baru saja menginjakan kaki ku di kelas, pengumuman pun terdengar. Pengumuman itu berisi kami semua disuruh kelapangan untuk meletakkantumbuhan yang kami bawa. Aku melihat Lala yang membawa sekarung tumbuhan lidah mertua itu, aduh fikir ku Lala terlalu rajin, aku membantunyakarena aku melihat ia keberatan dan lelah. Kami membawanya berdua, namun ketika kami hendak menurunkan anak tangga. Kak Fahmi mengahampiri kami, dia menyodorkan bantuan untuk membawa tumbuhan itu, karena kami memang sudah lelah, kami pun menerima bantuan itu. Aku terdiam, lalu Lala menepak bahu ku. Lala bilang kepada ku.
Lala: "Ini Sya yang namanya Kak Fahmi. Apa yang ngebosenin, aku rasa aku berfikiran sama dengan teman-teman mu." (Sambil senyum, dan memandang Kak Fahmi yang sudah berlalu)
Aku: "Ihhh, La, apa si kamu ini. Kok malah ikut-ikutan lebay kaya gitu." (dengan wajah jutek)
Sembari berjalan, Aku terdiam, ku fikirkan omongan Lala tadi. Sampai dilapangan, aku baris dikelas ku. Aku kedapatan baris dibelakang, dan dekat dengan kak Fahmi. Entah apa perasaan ku sekarang, berterima kasihkah, menjauh kah, atau bersikap biasa. "Ahh, nampaknya dia pun sudah lupa bantuannya tadi, jadi untuk apa aku berterima kasih". Sikap ku pun biasa.
*Di rumah
Setelah pulang sekolah, aku lalu masuk kamar untuk berganti pakaian dan Shalat dzuhur. Aku duduk ditempat tidur ku, ku ingat-ingat ucapan Lala tadi, dan aku pun terbayang dengan kak Fahmi. Sosok kakak kelas yang perlahan-lahan menarik perhatian ku.
"Gak, gak mungkin aku tetarik sama dia. Ihh, nyebelin banget si". Lambat laut aku pun termakan omongan ku sendiri, entah mengapa aku selalu ingin melihat sosok kak Fahmi, sepertinya kelas tak sebosan awal aku menyapanya. Akhirnya hari ketiga pun datang, disini kami disuruh membuat yel-yel dan masing-masing kakak pembina membantu kami membuatkan yel-yelnya. Setelah kelas 77 pun tampil itu artinya berakhirnya MOPDB, dan kami kini resmi menjadi siswa SMPN. Aku pun senang mendengarkan, mungkin ini awal suasana baru ku. Tapi kini kakak-kakak itu tidak mendampingi kami, mereka mulai mengawali kelas 9 nya begitu pun dengan kak Fahmi, aku rasa aku kecewa dengan diri ku, aku hanya melihat seseorang dari pendapat ku saja. Ternyata pendapat ku salah, Kak Fahmi merupakan senior yang baik, yang ramah dan hormat kepada guru. Rasanya aku ingin mengulang tiga hari yang lalu.
Aku bertemu dengan Lala awalnya aku takut untuk menceritakan apa yang ada dibenak ku. Tapi, dengan ragu akhirnya aku mengatakan itu semua. Aku kesal, Lala menertawakan cerita ku, bahkan Lala berbalik meledekkan ku. Ya sudahlah, kami pun belajar menjadi murid baru di SMP.
Waktu pun berputar, bulan pun menghabiskan tanggal muda dan tuanya. Ya satu semester telah kami laluin, lalui dengan rasa kagum ku terhadap sosok Kak Fahmi, dan kini kami memasuki semester 2. Bagi kakak kelas 9, semester ini merupakan semester yang menegangkan. Yang tersisa 4 bulan lagi mejadi murid SMP. Aku pun mulai merasakan ke khawatiran, akankah menjadi hal yang sama, ketika awal ku dulu menilai seseorang lewat pendapat ku. Aku tak ingin mengulanginya, sampai ketika aku mencari dan menemui fb nya kak Fahmi. Aku mulai menegurnya, menanyakan kesibukannya. Bulan April pun kini datang mengahampiri kami. Bulan yang akan diselenggarakatn UN. Akhirnya UN yang ditunggu-tunggu pun datang. Aku hanya bisa memberikan dukungan serta berdo'a untuk sosok yang setahun belakangan ini aku kagumi. Semuanya selesai, kelas 9 pun tak lagi belajar seperti biasa. Aku begitu cemas, aku berfikir dengan berakhirnya kelas 9 sekolah di sini, berarti berakhir juga massa ku untuk mengngagumi sosok senior ku. Ku rasa memang iya, dan kini kelas 9 LULUS !!!! Aku turut bahagia, dan rasa cemas ku memang terlihat rupanya. Namun, aku bersikap dewasa. Inilah cerita ku kini, dan akan menjadi kenangan untuk selamanya, menjadi pembelajaran, serta mendapat ilmu dari sosok kakak itu. Aku percaya mereka mampu menjadi luar biasa nantinya, dan kelak nanti rencana Allah yang akan memberikan kenangan kedepannya jauh lebih indah.
@Annisa Habibah
Follow me @anissahabbibah
Jangan lupa tinggalin kesan dan pesan ya.
Cerpen ini untuk dirinya. :)
Komentar
Posting Komentar